Skripsi
Meaning of life siswa broken home ditinjau dari resiliensi, introspeksi diri, dan spiritualitas / LINTANG TRECY PRANATA
Abstrak
Banyaknya kasus perceraian yang tercatat pada Pengadilan Agama Malang Kelas IA di tahun 2020 menimbulkan dampak signifikan pada anak- anak dari keluarga yang tidak utuh. Fenomena ini mengindikasikan bahwa anak-anak dari keluarga broken home cenderung mengembangkan resiliensi introspeksi diri dan spiritualitas sebagai cara untuk menemukan arti kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana meaning of life siswa broken home di SMAN 4 Malang ditinjau dari segi resiliensi introspeksi diri dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian ini terdiri dari 5 siswa SMAN 4 Malang yang berasal dari keluarga broken home. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara semi terstruktur observasi partisipatif dokumentasi dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan melalui model interaktif Miles dan Huberman yang melibatkan kondensasi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diverifikasi melalui triangulasi sumber teknik dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa broken home mengembangkan resiliensi melalui kemampuan untuk beradaptasi dan tetap bertahan dalam situasi sulit introspeksi diri melalui refleksi dan evaluasi terhadap diri sendiri serta spiritualitas yang membantu mereka menemukan makna hidup dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Pembahasan mengungkapkan bahwa ketiga aspek ini saling berhubungan dan bersama-sama membentuk meaning of life pada siswa broken home. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa resiliensi introspeksi diri dan spiritualitas berperan penting dalam pembentukan meaning of life pada siswa broken home. Saran untuk konselor sekolah/guru BK adalah untuk memberikan bimbingan dan dukungan kepada siswa broken home dalam mengembangkan ketiga aspek tersebut untuk membantu mereka menemukan dan memahami meaning of life mereka.