Disertasi
Pengembangan model bimbingan klasikal bauran berbasis teori tindakan terencana untuk mencegah intensi sexting siswa SMA / Rian Rokhmad Hidayat
Abstrak
Sosial media memiliki dampak positif dan negatif dalam keseharian para siswa. Salah satu dampak negatif dari sosial media yaitu munculnya perilaku sexting. Istilah sexting mengacu pada perilaku mengirim atau menerima gambar video atau pesan seksual melalui media sosial. Guru BK perlu memberikan perhatian terhadap upaya pencegahan masalah sexting di sekolah. Salah satu cara yang bisa dipakai untuk mencegah intensi sexting yaitu dengan layanan bimbingan klasikal berbasis teori tindakan terencana yang dapat dilakukan secara bauran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menghasilkan model bimbingan klasikal bauran berbasis teori tindakan terencana yang memenuhi syarat keberterimaan untuk mencegah intensi sexting bagi siswa SMA (2) Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menguji keefektifan dari model bimbingan klasikal bauran berbasis teori tindakan terencana untuk mencegah intensi sexting bagi siswa SMA. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan Borg amp Gall (1983) yang terdiri atas sepuluh langkah yaitu studi pendahuluan perencanaan pengembangan produk awal uji coba lapangan awal revisi produk utama uji coba lapangan utama revisi produk operasional uji coba lapangan operasional revisi produk final dan deseminasi hasil. Uji keberterimaan model dilakukan dengan penilaian para ahli dan pengujian keefektifan model menggunakan uji coba lapangan utama. Teknik analisis data yang digunakan pada uji ahli model yaitu uji validitas Aiken-V dan analisis data verbal. Analisis data uji keefektifan eksperimen satu kelompok menggunakan uji beda t-test. Penelitian ini menghasilkan sebuah model bimbingan klasikal bauran berbasis teori tindakan terencana untuk mencegah intensi sexting siswa SMA melalui pengumbahan keyakinan-keyakinan yang dapat mempengaruhi sikap norma pribadi dan kontrol tindakan yang dirasakan sehingga akan mempengaruhi intensi sexting siswa. Model bimbingan ini dapat diimplementasikan secara bauran dalam tiga sesi luring dan dua sesi daring. Hasil uji keberterimaan terhadap model yang dikembangkan menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mendapatkan skor keberterimaan sangat tinggi dengan kriteria kereberterimaan berupa konsistensi relevansi kepraktisan yang diharapkan dan keefektifan yang diharapkan. Hasil uji lapangan utama untuk menguji keefektifan model praeksperimen one group prestest-posttest design menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penurunan skor intensi sexting pada siswa yang telah mengikuti bimbingan klasikal menggunakan model yang dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa model yang dikembangkan efektif untuk mencegah intensi sexting pada siswa SMA. Saran yang diberikan kepada guru BK diantaranya (1) mengembangkan pengetahuan terkait situasi berisiko intensi sexting perkembangan jenis-jenis sexting dan cara pencegahan intensi sexting berbasis teori tindakan terencana sehingga dapat mengimplementasikan model (2) menggunakan hasil penelitian dan pengembangan ini dalam pelaksanaan layanan (3) memanfaatkan peluang layanan secara bauran seperti yang dikembangkan dalam model untuk mengatasi keterbatasan jam layanan (4) menerapkan model dalam penelitian tindakan bimbingan agar mampu meningkatkan profesionalitas dan peningkatan kualitas pemberian layanan. Peneliti selanjutnya disarankan untuk (1) memperluas subjek pada uji lapangan utama dan meningkatkan kualitas desain eksperimen yang digunakan (2) menguji keefektifan tanpa pendampingan guru BK untuk mengetahui apakah model ini efektif bila digunakan sebagai self-guidance (3) melakukan pembaharuan materi yang ada pada model agar tetap relevan.