Disertasi
Translasi representasi semantik dalam menyelesaikan masalah pecahan pada mahasiswa calon guru / Arwan Mhd. Said
Abstrak
RINGKASAN Arwan M Said 2024. Translasi Representasi Semantik dalam Menyelesaikan Pecahan Pada Mahasiswa Calon Guru. Disertasi Departemen Matematika Program Studi S3 Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Drs. Purwanto Ph.D. (II) Dr. Erry Hidayanto M.Si. (III) Dr. Rustanto Rahardi M.Si. Kata Kunci Translasi representasi representasi semantik kesesuaian semantik. Kesesuaian semantik konseptual translasi antara representasi matematis berkaitan erat dengan kemampuan matematis. Kemampuan mahasiswa dalam merepresentasikan konsep/makna matematis dari suatu bentuk ke berbagai bentuk lainnya menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman makna matematis yang mendalam dalam memecahkan masalah. Salah satu masalah dalam menggunakan translasi antar bentuk representasi (verbal simbolik dan grafik/gambar) adalah masalah kesesuaian semantik konseptual. Efek semantik tidak dapat dikaitkan hanya pada kata-kata tertentu dalam teks soal tetapi pada ciri-ciri lain yaitu sifat dan relasi entitas atau objek yang digambarkan dalam suatu soal atau masalah. Dengan menggunakan paradigma transfer analogis di mana sesorang pertama kali dihadapkan pada sumber masalah yang diberikan solusinya dan kemudian diminta untuk memecahkan masalah target. Berdasarkan hasil studi pendahuluan masalah pecahan terhadap beberapa mahasiswa diperoleh kesimpulan awal bahwa mahasiswa dalam menyelesaikan masalah pecahan lebih pada pemahaman procedural dan kesulitan dalam ketrampilan menerjemahkan pernyataan verbal ketika mengubahnya menjadi bahasa simbolik dan sebaliknya karena kurangnya pemahaman konseptual pada bilangan pecahan. Untuk mendukung ketrampilan translasi representasi masalah konsep/makna matematis tentunya diperlukan pemahaman semantik konseptual yang baik dari mahasiswa khususnya calon guru. Sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat kajian penelitian ini mengkaji tentang proses translasi representasi semantik konseptual dalam menyelesaikan masalah pecahan pada mahasiswa calon guru. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan aktivitas translasi representasi semantik konseptual bilangan pecahan yang dilakukan oleh mahasiswa calon guru. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Matematika pada dua Perguruan Tinggi/Universitas di Provinsi Maluku Utara. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah 79 mahasiswa calon guru. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti dan instrument pendukung adalah tugas translasi representasi semantik matematis dan pedoman wawancara. Jenis data yang dianalisis yaitu mendiskripsikan hasil think alound dengan tujuan untuk mengetahui hasil kerja berdasarkan proses translasi representasi semantik hasil kerja tertulis dan hasil wawancara yang diperoleh ketika mahasiswa menyelesaikan tugas translasi representasi semantik matematis. Semua data dianalisis menggunakan analisis kualitatif deskriptif. Translasi representasi semantik yang dilakukan oleh mahasiswa calon guru melalui 4 (empat) tahap yaitu (1) Membongkar sumber (Unpacking The Source) (2) Koordinasi awal (Preliminary Coordination) (3) Mengonstruksi target (Constructing The Targe) dan (4) Menentukan kesesuaian (Determining Equivalence). Melalui empat tahapan tersebut diperoleh tipe aktivitas translasi representasi sematik matematis dari mahasiswa calon guru. Aktivitas translasi representasi semantik matematis mahasiswa salah dalam mengonstruksi target dan pemahamannya belum sepenuhnya prosedural. (1) Tahap Membongkar Sumber. Pada tahap membongkar sumber mahasiswa memiliki proses yang sama dalam memilih informasi-informasi penting yang ada pada representasi sumber. Mahasiswa harus memahami masalah terlebih dahulu agar tidak mengabaikan informasi penting berupa atribut-atribut makna representasi sumber. Mahasiswa juga harus dapat membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan dengan masalah yang diberikan. Hal ini disebabkan dalam menerjemahkan dari satu sistem representasi ke sistem representasi lainnya terdiri dari transformasi informasi yang dikodekan dalam satu jenis representasi matematis (sumber) ke yang lain. Informasi tersebut yang akan digunakan untuk proses berikutnya yaitu mengonstruksi komponen dalam menentukan (determinsme) representasi target. (2) Tahapan Koordinasi Awal. Pada tahapan koordinasi awal mahasiswa mengoordinasikan informasi-informasi penting yang telah dipilih pada tahapan membongkar sumber. Setelah mengoordinasikan informasi pada representasi sumber mahasiswa tidak menyadari bahwa ada informasi penting yang tersembunyi berupa komponen makna representasi sumber diperoleh terlebih dahulu sebelum mengonstruksi representasi target. Mahasiswa juga tidak mengoordinasikan kembali bahwa terdapat atribut-atribut kesesuaian makna simbol pecahan. Namun mahasiswa langsung melakukan tahapan berikutnya yakni mengonstruksi representasi target. (3) Tahapan Mengonstruksi Target. Pada tahapan mengonstruksi target sesuai konsep yang telah dipahaminya. Saat mengonstruksi target mahasiswa terlihat kurang memahami prosedural (sintaksis) dan mengabaikan semantik konseptual. Hal ini disebabkan mahasiswa di dalam menyelesaikan masalah translasi antara bentuk representasi matematis pada bilangan pecahan (verbal simbolik dan grafik/gambar) mahasiswa tidak memahami kesesuaian makna pada representasi sumber dan target sehingga mahasiswa tidak bisa membuat translasi representasi semantik matematis. (4) Tahapan Menentukan Kesesuaian. Dalam menentukan kesesuaian dari representasi target yang telah dikonstruksi. Mahasiswa tidak memperhatikan kembali konsep atau atribut pada representasi sumber apakah konsep atau atribut yang menentukan dari representasi sumber dan target telah ditranslasikan dengan benar berdasarkan masalah yang diberikan dalam rangka mempertahankan makna matematika. Mahasiswa juga kurang memperhatikan kembali kesesuaian operasi aljabar yang telah dilakukan dalam menyederhanakan pembilang dan penyebut pecahan dalam mengonstruksi representasi simbol pecahan tersebut. Akibatnya mahasiswa keliru dalam menentukan kesesuaian semantik konseptual pada representasi sumber dan target. Aktivitas translasi representasi semantik mahasiswa benar dalam mengonstruksi target dan pemahamannya bersifat prosedural. (1) Tahap Membongkar Sumber. Pada tahap membongkar sumber (Unpacking The Source) mahasiswa memiliki proses yang sama dalam memilih informasi-informasi penting yang ada pada representasi sumber. Dalam memilih informasi penting Mahasiswa harus memahami masalah terlebih dahulu agar tidak mengabaikan informasi penting berupa atribut-atribut makna representasi sumber. Hal ini disebabkan dalam menerjemahkan dari satu sistem representasi ke sistem representasi lainnya terdiri dari transformasi informasi yang dikodekan dalam satu jenis representasi matematis (sumber) ke yang lain. (2) Tahap Koordinasi Awal. Pada tahapan koordinasi awal mahasiswa mengoordinasikan informasi-informasi penting yang telah dipilih pada tahapan membongkar sumber. Setelah mengoordinasikan informasi pada representasi sumber mahasiswa tidak menyadari bahwa ada informasi penting dan tersembunyi yang harus diperoleh terlebih dahulu sebelum mengonstruksi representasi target. Mahasiswa telah memisalkan informasi penting berupa representasi verbal dengan simbol pecahan secara formal meskipun terdapat perbedaan dalam bentuk pengoperasiannya. Mahasiswa juga telah memahami informasi yang diberikan meskipun tidak dituliskan secara eksplisit. Namun mahasiswa tidak kembali lagi mengoordinasikan atau menghubungkan kembali informasi-informasi yang ada pada representasi sumber berupa makna representasi sumber yang diabaikan sebelum mengontruksi target. Selanjutnya mahasiswa langsung melakukan tahapan berikutnya yakni mengonstruksi komponen representasi target.(3) Tahap Mengontruksi Target. Setelah selesai melakukan tahapan koordinasi awal. Mahasiswa mengonstruksi target sesuai konsep yang telah dipahami. Saat mengontruksi target mahasiswa lebih mengandalkan pemahaman procedural (sintaksis) daripada pemahaman konseptual. Hal ini disebabkan mahasiswa di dalam menyelesaikan masalah translasi antara bentuk representasi matematis pada bilangan pecahan (verbal simbolik dan grafik/gambar) mahasiswa mengabaikan atribut-atribut (komponen) makna representasi sumber dan target sehingga makna matematika antara representasi sumber dan representasi target tidak ditranslasikan dengan benar. (4) Tahap Menentukan Kesesuaian. Dalam menentukan kesesuaian dari representasi target yang telah dikonstruksi. Mahasiswa memperhatikan kembali konsep atau atribut pada representasi sumber apakah konsep atau atribut yang menentukan dari representasi sumber dan target telah ditranslasikan dengan benar dalam rangka mempertahankan makna matematika. Meskipun mahasiswa telah mengecek kesesuaian representasi simbol pecahan tersebut dengan masalah pecahan yang diberikan. Mahasiswa juga mengecek kembali kesesuaian operasi aljabar yang telah dilakukan dalam menyederhanakan pembilang dan penyebut pecahan dalam mengonstruksi representasi simbol pecahan tersebut. Namun pada saat mahasiswa menentukan kesesuaian konseptual pada representasi sumber dan target mahasiswa banyak melibatkan proses penafsiran atau interpretasi mencontohkan atribut dari representasi sumber atau target sehingga tidak memastikan bahwa konsep atau atribut lain yang relevan juga ditranslasikan (diterjemahkan) dengan benar. Berdasarkan tahapan translasi representasi penelitian ini menemukan tiga tipe translasi representasi semantik yaitu (1) Subjek salah mengonstruksi target dan pemahaman translasi antar representasi matematis mereka belum sepenuhnya procedural (sintaksis) yang mengakibatkan ketidaksesuaian makna translasi antar representasi matematis (2) Subjek benar dalam mengonstruksi target namun setelah ditelusuri pemahaman mereka bersifat procedural (sintaksis) yang mengakibatkan ketidaksesuaian makna translasi antara bentuk representasi pecahan (dari simbol pecahan ke garis bilangan) dan (3) Subjek benar dalam mengonstruksi target. Namun pemahaman translasi representasi lebih pada fakta kesamaan pecahan yang direpresentasikan. Sehingga pemahaman mereka belum sepenuhnya semantik konseptual.