Tesis
Implementasi kurikulum merdeka (IKM) dalam pembelajaran sejarah (studi kasus di SMA Se-Kabupaten Malang)/ Winda Tri Astutik
Abstrak
Kurikulum Merdeka telah diimplementasikan oleh pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2021. Pada tahun pertama ini Kurikulum Merdeka diterapkan secara terbatas di Sekolah Penggerak yang dipilih oleh pemerintah untuk melaksanakan kurikulum ini. Pada tahun 2022 Kurikulum Merdeka diimplementasikan secara luas dan mandiri ke sekolah-sekolah non-penggerak dengan nama program ldquo Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) rdquo . Alasan pergantian kurikulum ini dikarenakan pandemi covid 19 yang menciptakan adalanya learning loss dan gap dalam pembelajaran di tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Merdeka diklaim lebih sederhana bila dibanding kurikulum-kurikulum sebelumnya karena mengedepankan ketercapaian kompetensi dan menggurangi konten dalam pembelajaran. Selain itu Kurikulum Merdeka mengusung konsep baru yang disebut Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan P5 ini menekankan pada penanaman pendidikan karakter peserta didik. Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan peneliti pelaksanaan Kurikulum Merdeka di sekolah pelaksana IKM mengalami banyak kendala seperti kurangnya pendampingan dari pemerintah serta ketidaksiapan guru dan sekolah. Secara substansi Kurikulum Merdeka sangat berbeda dengan Kurikulum 2013. Dimulai dari struktur kurikulum dan mata pelajaran hingga materi dalam mata pelajaran memiliki perbedaan yang besar. Dengan perubahan yang begitu besar dan waktu yang singkat sekolah yang lolos untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di tahun 2022 harus belajar pedoman kurikulum secara mandiri agar dapat melaksanakan Kurikulum Merdeka dengan baik. Penelitian mengenai Kurikulum Merdeka ini dilaksanakan di Kabupaten Malang Jawa Timur. Kabupaten Malang dipilih sebagai lokasi penelitian karena di kabupaten ini terdapat 6 SMA yang melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka jumlah ini cukup banyak untuk memberikan data dan informasi dengan demikian penelitian ini dapat memberi gambaran yang jelas dan lengkap terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Sekolah yang melaksanakan Kurikulum Merdeka yaitu SMA 1 Kepanjen SMA 1 Turen SMA 1 Dampit SMA 1 Gondanglegi SMA 1 Tumpang dan SMA 1 Sumbermanjing. Fokus penelitian yang diangkat dalam kajian ini adalah untuk menggungkapkan (1) bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Se-Kabupaten Malang dan (2) bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran sejarah di SMA Se-Kabupaten Malang. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti berfokus pada kajian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Adapun desain penelitian menggunakan multi kasus karena terdapat 6 SMA yang dijadikan sebagai subjek penelitian. Langkah penelitian dalam penelitian ini meliputi persiapan pengumpulan data pelaksanaan pengumpulan data analisis studi kasus dan menulis laporan studi kasus. Instrument dalam penelitian ini menggunakan analisis dokumen seperti KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan) dan modul ajar yang digunakan oleh guru lembar observasi untuk mengamati proses pembelajaran di kelas pedoman wawancara untuk mewawancarai guru sejarah kepala sekolah serta wakil kelapa sekolah bidang kurikulum. Penelitian ini berhasil memaparkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Se-Kabupaten Malang masih mengalami banyak kendala dan mispersepsi. Pada tahun 2022 ke-6 sekolah ini melaksanakan persiapan secara mandiri dengan melakukan studi tiru di sekolah penggerak yang telah melaksanakan Kurikulum Merdeka sejak tahun 2021 yaitu SMA2 Batu dan SMA 1 Purwosari. Kendala yang dihadapi sekolah terkait pelaksanaan kegiatan P5 yang mana pada tahun pertama terjadi miskonsepsi bahwa kegiatan ini harus diakhiri dengan gelar/pamer karya sehingga kegiatan ini menyita banyak waktu dan dana. Pada tahun berikutnya sekolah telah memahami bahwa aspek terpenting dari kegiatan ini adalah penanaman karakter sehingga sekolah lebih menekankan pada kegiatan sekolah yang dapat menanamkan karakter pelajar Pancasila. Selain itu sekolah mengalami banyak kendala dalam proses pemilihan mata pelajaran pilihan. Proses ini menekankan pada kebutuhan balajar dan minat peserta didik sehingga sekolah harus menggunakan banyak metode untuk mengumpulkan data untuk menentukan mata palajaran pilihan ini. Sekolah kesulitan untuk memenuhi hasil pemilihan yang beragam untuk itu sekolah tetap membatasi pemilihan mata pelajaran pilihan yang disesuaikan juga dengan ketersediaan guru mata pelajaran. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran sejarah juga menemui beberapa kendala seperti guru harus beradaptasi dengan banyak konsep baru dan asesmen yang lebih beragam. Kurikulum Merdeka memperkenalkan konsep baru yang disebut pembelajaran terdiferensiasi yang mengharuskan guru menyelenggarakan pembelajaran di kelas yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak didik. Namun pelaksanaannya guru masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran terdiferensiasi. Konsep lain yaitu asesmen diagnostik. Asesmen diagnostik dilakukan oleh guru agar dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang disesuaikan kebutuhan dan bakat minat anak didik. Dari hasil penelitian guru sejarah SMA Kab. Malang telah mencoba untuk melakukan pembelajaran sesuai dengan arahan dalam pedoman Kurikulum Merdeka meskipun masih banyak ditemui hambatan. Guru sejarah masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan mempelajari Kurikulum Merdeka. Tujuannya agar kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka dan dapat menyelenggarakan pembelajaran sejarah yang baik sehingga tujuan kurikulum dapat tercapai.