Skripsi
Pengaruh olahraga intensitas ringan terhadap gambaran histologi testis tikus putih galur wistar / Abdilah Gandi Fauzi
Abstrak
Olahraga semakin banyak dilakukan oleh semua kalangan usia. Namun semua olahraga yang dilakukan perlu memenuhi formula FITT (frequency intensity type and time). Ketidaktahuan cara berolahraga dapat menyebabkan gangguan homeostatis dan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah kondisi yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi atau kadar radikal bebas dengan antioksidan di dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut dipicu oleh dua kondisi umum yaitu kurangnya antioksidan dan kelebihan produksi radikal bebas. Stres oktidatif dapat menyerang seluruh organ termasuk testis sehingga meningkatkan faktor resiko infertilitas pada pria. Infertilitas pria adalah akibat adanya peningkatan radikal bebas yang menyebabkan terjadinya stres oksidatif pada sel spermatogenik sel Leydig dan sel sertoli yang memiliki peran penting dalam proses spermatogenesis. Radikal bebas akan memicu terjadinya gangguan dan kerusakan pada sel-sel tersebut. Kerusakan yang terjadi antara lain apoptosis dan atrofi serta terjadi penurunan jumlah sel spermatogenik. Olahraga yang sudah terprogram dan sesuai dengan FITT dapat meningkatkan kadar antioksidan endogen sehingga dapat mengurangi efek stres oksidatif. Peningkatan antioksidan setelah olahraga terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu peningkatan aktivitas protease dan aktivitas perbaikan enzim DNA serta peningkatan antioksidan enzimatik sel. Kadar dan aktivitas antioksidan endogen yang optimal akibat olahraga yang terprogram diharapkan dapat menangkal produksi ROS yang berlebihan sehingga mencegah stres oksidasi yang dapat merusak sel termasuk sel-sel pada epididemis dan sperma. Penurunan stres oksidasi tersebut akan dibuktikan dengan menurunnya kadar MDA jaringan. Dalam penelitian ini sepuluh tikus wistar jantan berusia sembilan hingga sepuluh minggu dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan jumlah masing-masing dengan lima tikus. Kelompok perlakuan diberikan olahraga intensitas ringan di atas treadmill dengan kecepatan 8-10 m/menit selama 15-20 menit lama recovery 1-2 menit 3 set per hari selama 12 minggu. Kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan. Pengambilan sampel organ testis dilakukan dengan cara euthanasia. Setelah tikus terbunuh dilakukan pembedahan untuk pengambilan spesimen organ testis sebanyak 10 mm dimasukkan ke wadah berisi larutan formalin untuk selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologi dan pewarnaan Hematoxylin-Easin (HE). Sebuah mikroskop dengan pembesaran 100kali dan 400kali digunakan untuk mengamati preparat histologi yang diamati adalah sel spermatogenik pada tubulus seminiferus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah sel spermatogenik di dalam tubulus seminiferus pada tikus kelompok perlakuan dan jumlah sel spermatogenik di dalam tubulus seminiferus pada tikus kelompok kontrol. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan tidak ada pengaruh terhadap gambaran histologi sel spermatogenik pada tubulus seminiferus testis tikus putih galur wistar setelah diberi olahraga intensitas ringan.