Skripsi
Persepsi guru sejarah terhadap implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri Kota Malang / IREN YOSEPIN LAURENSIA TARIGAN
Abstrak
Kurikulum Merdeka mendapatkan beragam persepsi dari para guru. Beberapa guru antusias karena kurikulum ini memberikan kebebasan dalam metode pengajaran dan materi sementara yang lain mengalami kesulitan dalam penyesuaian terutama terkait capaian pembelajaran dan evaluasi. Kurikulum Merdeka umumnya diterima dengan positif oleh guru dan siswa dengan manfaat seperti peningkatan semangat belajar dan kreativitas. Persepsi terhadap kurikulum ini dipengaruhi oleh pengalaman mengajar latar belakang pendidikan dan pelatihan guru. Penelitian ini berfokus pada persepsi guru sejarah mengenai implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri Kota Malang yang mencakup perencanaan pelaksanaan dan evaluasi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan sampel dari guru di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 4. Sampel ini dipilih melalui teknik purposive sampling yaitu dengan pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Maksud dari pertimbangan tersebut adalah dilihat berdasarkan fakta bahwa kedua sekolah tersebut diketahui paling awal menerapkan dan mengimplementasi Kurikulum Merdeka pada jenjang SMA di kota Malang oleh karena itu bagi kedua sekolah ini mungkin sudah sangat familiar dengan Kurikulum Merdeka sehingga peneliti memilih kedua sekolah tersebut mewakili sebelas sekolah negeri di Kota Malang. Disisi lain bahwa salah satu narasumber dalam penelitian ini tak lain adalah ketua MGMPS kota malang sehingga secara garis besar dapat dianggap paling tahu tentang apa yang dirasakan guru-guru sejarah di Kota Malang. Disisi lain juga bahwa informan dalam penelitian ini merupakan guru penggerak Kurikulum Merdeka di SMA Negeri Kota Malang sehingga dapat dianggap mengetahui lebih banyak terkait Kurikulum Merdeka. Sebagai pembanding persepsi peneliti juga menambahkan informan dari kalangan guru yang masih terbilang baru terjun dalam dunia mengajar dan baru mengenal Kurikulum Merdeka. Pandangan guru sejarah di kota Malang menunjukkan bahwa meskipun tidak ada masalah besar dalam pembelajaran tantangan seperti manajemen waktu dan beban jam pelajaran masih ada. Kurikulum Merdeka memungkinkan pendekatan yang lebih variatif dan kontekstual tetapi metode klasik kadang-kadang masih diperlukan. Keadaan kelas menjadi lebih aktif namun kondusif mengurangi learning loss dan mempermudah penanaman karakter. Evaluasi dalam Kurikulum Merdeka dianggap lebih fleksibel dan holistik dibandingkan Kurikulum 2013 melibatkan berbagai indikator dan metode seperti Project Based Learning yang mendorong berpikir kritis dan analitis serta mendukung pemahaman mendalam tentang konsep sejarah dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.