Skripsi
Skrining potensi aktinobakteria dari sedimen selat lembeh sulawesi utara sebagai obat anti-jerawat / Anastacia Verena Salim
Abstrak
Acne vulgaris adalah kondisi kulit yang umum dialami oleh sekitar 85% individu terutama remaja. Namun meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik menjadi tantangan yang semakin serius. Studi tahun 2020 mengungkapkan adanya resistensi signifikan terhadap eritromisin dan klindamisin pada bakteri penyebab jerawat seperti Propionibacterium acnes Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Untuk mengatasi resistensi antibiotik pengembangan agen terapeutik baru menjadi sangat penting. Dalam penelitian ini isolat bakteri BLH 14-2 menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi saat ditumbuhkan pada media agar dan cair. Hasil penapisan menunjukkan bahwa media YSA adalah yang paling efektif dalam mendukung aktivitas antibakteri pada ketiga isolat sehingga dipilih sebagai media untuk proses ekstraksi. Meskipun menggunakan dua media yang berbeda (agar dan cair) serta pelarut (etanol 70% dan metanol) tidak ada pengaruh signifikan terhadap hasil ekstrak yang diperoleh. Akan tetapi pelarut ini tidak berhasil mengekstrak senyawa yang mampu menghambat sebagian besar bakteri uji yang menyebabkan penurunan aktivitas dibandingkan dengan hasil penapisan awal. Analisis fitokimia mengidentifikasi adanya alkaloid pada sebagian besar ekstrak dengan terpenoid juga terdapat pada ekstrak BLH 14-2 dan BLH 4-5. Gen 16S rRNA berhasil diamplifikasi pada ketiga isolat dan profil Biosynthetic Gene Cluster (BGC) mengungkapkan amplifikasi gen KS-2 pada isolat BLH 14-2 dan BLH 9-2 yang menunjukkan potensi biosintesis poliketida. Namun amplifikasi gen saja tidak menjamin produksi senyawa bioaktif karena ekspresi gen sangat bergantung pada kondisi lingkungan tertentu.