Skripsi
Potensi materi penelitian dekolonisasi dan permintaan maaf belanda atas kekerasan ekstrem di Indonesia 1945-1949 dalam pembelajaran sejarah / Firnanda Nur Aulia
Abstrak
Setelah 70 tahun lebih kemerdekaan Indonesia Belanda baru meminta maaf kepada pihak Indonesia atas kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh tentara militernya pada masa Pascakolonial. Belanda baru memulai Dekolonisasi mental dalam dekade ini. Bahkan Pemerintah Kerajaan Belanda sampai mengelontorkan uang sebanyak 4.1 juta euro untuk melakukan penelitian terkait topik ini dan bekerja sama dengan sejarawan Indonesia. Tujuan penulisan artikel ini untuk melihat bagaimana Belanda bisa melakukan kekerasan ekstrem ini dan bagaimana potensinya jika materi terkait dekolonisasi dan kekerasan ekstrem yang dilakukan Belanda dapat diajarkan di kelas. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Hasil penulisan artikel ini belanda terbukti melakukan kekerasan ekstrem kepada orang-orang Indonesia pada masa Pascakolonial. Bahkan jumlah korban yang tewas di pihak Indonesia mencapai 100.000 lebih dan sebagian besar adalah warga sipil Perempuan dan anak-anak. Selain itu hasil penelitian bersama yang dibiayai Pemerintah Kerajaan Belanda dengan sejarawan Indonesia memunculkan perspektif baru terkait peran rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Meskipun Keterbatasan senjata tidak membuat rakyat menyerah melawan tentara Belanda. Mereka menggunakan alat seadanya seperti keris pisau bambu runcing dan beberapa senjata api. Manariknya di masa revolusi fisik ini tidak hanya perang senjata saja tetapi juga perang melalui propaganda melalui poster-poster atau tulisan lain untuk membendung massa. Oleh karena itu perpektif baru dalam sejarah revolusi di Indonesia sangat berpotensi untuk dijadikan materi pembelajaran di kelas. Mengingat dalam konteks sejarah revolusi di Indonesia selalu membahas elite militer saja dan sangat sedikit yang membahas peran rakyat biasa atau warga sipil dalam mempertahankan kemerdekaan.