Skripsi
Model hexahelix sebagai strategi pengembangan eco-cultural tourism di Kabupaten Malang (studi pada destinasi Wisata Gastronomi Tomboan Ngawonggo) / Satifa Agatha
Abstrak
Artikel ini menganalisis serta mengeksplorasi bagaimana model kolaborasi antar aktor Hexahelix diterapkan pada pengembangan destinasi wisata gastronomi Tomboan Ngawonggo. Keberadaan bentuk kolaborasi yang komprehensif dari model Hexahelix yang ada di destinasi wisata gastronomi Tomboan Ngawonggo dapat mendorong upaya penciptaan eco-cultural tourism serta mampu mengidentifikasi dinamika resistensi yang ada di destinasi tersebut melalui analisis SWOT. Pendekatan dengan metode kualitatif dan jenis penelitian model deskriptif dipilih peneliti untuk dapat menjabarkan secara rinci segala hal yang berkaitan dengan potensi kepariwisataan peran pemangku kepentingan serta serta dinamika resistensi yang terdapat di destinasi tersebut. Proses pengumpulan data lapangan yang dilakukan oleh peneliti yakni dengan cara observasi wawancara serta dokumentasi. Adapun dalam melakukan analisis data peneliti menggunakan metode analisis data dari Miles amp Huberman yakni reduksi data verifikasi keabsahan data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan data dilakukan dengan triangulasi teknik dan sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa wisata gastronomi Tomboan Ngawonggo dalam pengembangannya dijalankan dalam perspektif Hexahelix. Hal tersebut mengacu pada usaha manajerial kawasan wisata yang sesuai berdasarkan elemen-elemen Hexahelix. Meskipun peran Pokdarwis Kaswangga cenderung masih dominan namun kolaborasi dengan pihak eksternal lain seperti pemerintah media massa hingga wisatawan juga tampak bersinergi dengan baik. Kolaborasi Hexahelix tersebut kemudian menciptakan beberapa resistensi yang didalamnnya mencakup kelebihan kelemahan hambatan serta peluang bagi destinasi tersebut. Artikel berikut diharapkan mampu menjadi bahan kajian evaluatif untuk berbagai pihak dalam upaya pengembangan kawasan eco-cultural tourism pada wisata gastronomi Tomboan Ngawonggo sehingga dapat mendorong penciptaan konsep pariwisata yang berkelanjutan di Kabupaten Malang yang lebih kolaboratif.