Disertasi
Pengembangan Science Virtual Laboratory (Scivlab) dengan model inkuiri terbimbing untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis di sekolah dasar / Farida Istiamah
Abstrak
Kata Kunci science virtual laboratory keterampilan berpikir kritis inquiri terbimbing perubahan wujud zat Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan abad XXI yang diprioritaskan dan menjadi tujuan dalam sistem pendidikan. Berpikir kritis merupakan bekal yang perlu dipersiapkan untuk peserta didik. Ada enam indikator kemampuan berpikir kritis yang terlibat di dalam proses berpikir kritis yaitu interpretation analysis evaluation inference explanation self-regulation. Dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar keterampilan berpikir kritis dapat ditumbuhkan melalui kegiatan kerja ilmiah di laboratorium. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak sekolah yang tidak mempunyai laboratorium. Keterbatasan laboratorium menjadi salah satu kendala dalam melakukan kegiatan kerja ilmiah. Berbagai kondisi laboratorium dan berdasarkan data jumlah laboratorium yang tersedia di sekolah dasar tentunya akan berdampak pada ketidakseimbangan dalam akomodasi pendidikan. Salah satu cara yang dirasa tepat sesuai dengan karakter konsep pendidikan abad XXI telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yakni terkait keterampilan teknologi dan media informasi yaitu dengan memasukkan teknologi ke dalam laboratorium. Karena itu dibutuhkan sumber belajar lainnya yang mengarah ke teknologi untuk menunjang kegiatan kerja ilmiah. Kekurangan laboratorium tersebut yang mendasari dikembangkannya Science Virtual Laboratory yang menjadi sebuah alternatif dalam melakukan kerja ilmiah. Kegiatan kerja ilmiah tidak dengan sendirinya bisa menumbuhkan keterampilan berpikir kritis harus dengan cara tertentu salah satu caranya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran. Untuk efektivitas penggunaan Science Virtual Laboratory pada peserta didik model pembelajaran inkuri terbimbing menjadi salah satu pilihan. Adapun sintaks model inkuiri terbimbing diantaranya adalah orientasi peserta didik pada masalah mengorganisasikan peserta didik untuk merumuskan pertanyaan merencanakan kerja ilmiah membimbing kerja ilmiah menganalisis data dan bukti membangun pengetahuan baru mengkomunikasikan pengetahuan baru. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan produk berupa media scivlab yang valid praktis dan efektif untuk pembelajaran IPA dalam menumbuhkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Lee amp Owens yang terdiri dari lima tahap diantaranya adalah penilaian kebutuhan dan analisis awal dan akhir desain pengembangan dan implementasi evaluasi. Uji validasi dilakukan oleh ahli media pembelajaran dan ahli pendidikan. Uji efektivitas dilakukan di SD Labschool I selama 10 kali pertemuan di kelas IV. Kelas IV A digunakan untuk menguji efektivitas dengan menggunakan media scivlab dan kelas B menggunakan kerja ilmiah di laboratorium. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa media scivlab valid praktis dan efektif. Nilai validasi media sebesar 3 56 dalam kategori sangat valid dengan reliabilitas sebesar 91 5% validasi materi sebesar 3 45 kategori sangat valid dengan reliabilitas 86 5% validasi buku pedoman sebesar 3 82 dengan reliabilitas 95 1% sehingga hasil penilaian validitas media scivlab yang dikembangkan adalah valid adalah reliabel. Hasil uji kepraktisan diperoleh hasil bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan scivlab memperoleh rata-rata respon positif dari peserta didik sebesar 86 36% untuk respon guru rata-rata mencapai 83 9%. Berdasarkan uji-t diketahui nilai sig Two-Sided p sebesar 0 001 lt 0 05 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pembelajaran di kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kemudian dilakukan uji efektivitas kelas eksperimen diperoleh hasil peningkatan 0 72 (tinggi) dan kelas kontrol sebesar 0 56 (sedang). Kelebihan scivlab memberikan aksesbilitas yang luas khususnya bagi sekolah yang tidak memiliki laboratorium fisik yang memadai. Scivlab menjadi solusi yang lebih ekonomis bagi sekolah terutama yang memiliki anggaran terbatas karena tidak perlu menyediakan alat dan bahan serta biaya perawatan laboratrium. Fleksibilitas dalam pembelajaran scivlab memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan kemampuan individu. Peserta didik dapat mengulangi kegiatan kerja ilmiah sampai memahami konsep yang dipelajari tanpa harus khawatir tentang ketersediaan bahan atau waktu laboratorium yang terbatas. Keamanan yang lebih baik beberapa kegiatan kerja ilmiah IPA melibatkan bahan kimia berbahaya yang dapat menimbulkan risiko keselamatan. Dengan scivlab risiko ini dihilangkan karena semua prosedur dilakukan secara virtual. Dengan berbagai keunggulan ini scivlab juga mampu melatihkan keterampilan berpikir kritis. Scivlab tidak hanya menjadi alat yang efektif untuk mengajarkan IPA tetapi juga mempersiapkan peserta didik untuk tantangan akademik teknologi dan profesional di masa depan. Adapun kendala dalam penggunaan media scivlab ini yaitu harus terkoneksi dengan internet.