Disertasi
Pengembangan model konseling kolaborasi “PUSAKA” (Puskesmas, Sekolah dan Keluarga) untuk optimalisasi psychological well-being remaja / Yufi Aris Lestari
Abstrak
WHO melansir enam masalah teratas kesehatan mental pada remaja adalah (1) gangguan emosi (2) masalah perilaku ldquo menantang atau merusak rdquo (3) gangguan makan psikosis (5) menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri (6) perilaku pengambilan resiko. Psychological well-being remaja merupakan aspek penting untuk menentukan kualitas bangsa. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung merupakan sumber daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa tidak ternilai (Indarjo S. 2009). Konseling yang terprogram dapat membantu remaja berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Arah pelayanan konseling dapat membantu remaja menjalani tugas perkembangan pengembangan potensi dan mengatasi permasalahan yang dimilikinya (Henderson 2012). Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model konseling kolaborasi Puskesmas Sekolah dan keluarga (Pusaka) untuk optimalisasi psychological well being remja dengan kriteria akseptabilitas dari uji ahli dan pengguna serta peningkatan nilai skala psychological well being remaja Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan borg and gall (1983). penelitian dilakukan melalui 10 tahap yaitu (1) riset awal pengumpulan informasi dan studi pendahuluan (2) perencanaan (3) menyusun format model awal (4) uji model lapangan awal (5) revisi model lapangan awal (6) uji coba model awal (7) revisi model operasional (8) uji lapangan model operasional (9) revisi produk akhir (10) deseminasi. Produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah panduan konseling kolaborassi PUSAKA untuk pengguna yaitu tenaga kesehatan di Puskesmas guru bimbingan dan konseling di Sekolah juga penyuluh keluarga sejahtera di BKKBN/DP2KBP2 yang bertujuan terjadi optimalisasi psychological well being remaja. Produk panduan sebelum digunakan dilakukan uji oleh ahli materi (ahli konseling ahli kolaborasi ahli konseling di Puskesmas ahli konseling di sekolah dan ahli konseling keluarga) dan ahli media analisis akseptabilitas menggunakan analisis Aiken rsquo s V. sedangkan Skala psychological well being yang digunakan menggunaka uji validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan Rasch analisis. Efektivitas produk diuji dengan menggunakan one group pre test post test di analisis dengan menggunakan Uji beda T-Test dengan nilai hitung di bawah alpha 0.05. Hasil analisis akseptabilitas menggunakan analisis Aiken rsquo s V ahli konseling di puseksmas sekolah dan keluarga serta ahli media didapatkan semua (100%) bernilai tinggi. Hasil uji beda T-Test pada mulai psychological well being remaja didapatkan nilai sig. 0 000 dari nilai tersebut dapat diartikan bahwa terdapat berbedaan yang signifikan antara nilai psychological well being sebelum dan sesudah dilakukan konseling kolaborasi PUSAKA (Puskesmas Sekolah dan Keluarga). Maka disimpulkan bahwa model konseling kolaborasi PUSAKA (Puskesmas Sekolah dan Keluarga) layak digunakan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas guru bimbingan dan konseling di sekolah dan penyuluh keluarga di BKKBN/DP2KBP2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengembangan model konseling kolaborasi PUSAKA (Puskesmas Sekolah dan Keluarga) mampu mengoptimalkan Psychological well being remaja. Pelaksanaan konseling kolaborasi PUSAKA (Puskesmas Sekolah dan Keluarga) memberikan kontribusi bagi remaja untuk mengatasi permasalahan Psychological well being pada remaja hal ini terbukti dengan setelah dilkukannya konseling kolaborasi PUSAKA terjadi perubahan nilai tingkat Psychological well being.