Disertasi
Proses berpikir kreatif siswa autism spectrum disorder (ASD) dalam menyelesaikan soal number sense / Elli Kusumawati
Abstrak
Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial komunikasi dan terlibat dalam perilaku atau obsesi yang tidak biasa. Karena jumlah siswa ASD yang memasuki sekolah dan mengakses pendidikan umum terus bertambah banyak pendidik merasa tidak dapat menyesuaikan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan atau karakteristik siswa ASD. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap beberapa guru di sekolah inklusi dan SLB menekankan bahwa matematika termasuk number sense diajarkan di sekolah untuk memberi bekal mereka dalam kehidupan sehari-hari. Namun banyak siswa ASD mengalami kesulitan dengan keterampilan numerik atau aritmatika dasar yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Meskipun siswa ASD memiliki terbatasan dalam hal imajinasi defisit dalam fleksibilitas kognitif dan kesulitan dalam memahami kiasan hasil beberapa penelitian menemukan bahwa siswa ASD dapat mengerjakan soal kreatif dan menunjukkan aspek berpikir kreatif seperti siswa non ASD. Hal ini didukung oleh hasil studi pendahuluan Ketika siswa ASD diberikan soal number sense jawaban mereka menunujukkan adanya aspek kelancaran keluwesan dan keaslian yang merupakan indikator berpikir kreatif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa ASD dalam menyelesaikan soal number sense. Proses berpikir kreatif yang digunakan pada penelitian ini menurut tahapan Wallas yaitu tahap persiapan inkubasi iluminasi dan verifikasi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang bertujuan menggambarkan proses berpikir kreatif siswa ASD dalam menyelesaikan soal soal number sense dan pemahaman siswa secara rinci. Data proses berpikir kreatif siswa ASD yang dikumpulkan peneliti berupa jawaban siswa hasil think aloud dan wawancara siswa. Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan instrumen tes kreatif umum yang tidak mempertimbangkan karakteristik unik siswa ASD. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan instrumen soal number sense yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Soal number sense diberikan kepada 13 siswa ASD untuk dikerjakan secara individu dengan waktu maksimal 90 menit. Dari hasil jawaban siswa dan think aloud peneliti memilih 5 calon subjek yang memiliki kemampuan number sense dan menunjukkan indikasi aspek berpikir kreatif. Kemudian peneliti kembali memberikan soal number sense kepada 5 calon subjek tersebut untuk dikerjakan dan terpilih tiga subjek yang memenuhi aspek berpikir kreatif yaitu kelancaran keluwesan dan keaslian. Hasil penelitian menunjukkan pada tahapan persiapan siswa ASD langsung membaca soal yang diberikan memahami informasi pada soal dan mengungkapkan apa yang diketahui dan ditanyakan pada informasi tersebut. Pada tahap persiapan siswa ASD membaca soal berulang kali sampai mereka memahami maksud dari soal tersebut. Pada tahap ini siswa ASD tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanya pada lembar jawaban namun siswa ASD menyebutkan informasi dari soal yang sudah mereka pahami melalui proses think aloud. Pada tahapan inkubasi siswa ASD mencari ide untuk menyelesaikan soal dengan menunjukkan beberapa gestur seperti merenung melamun memandang ke arah lain memainkan pulpen dan tersenyum-senyum sendiri sambil bergumam. Aspek berpikir kreatif tidak terlihat pada tahapan persiapan dan inkubasi. Pada tahap berikutnya yaitu iluminasi ide-ide dan gagasan dalam menyelesaikan soal terlihat pada tahapan ini. Siswa ASD mampu menyelesaikan soal number sense dengan terlebih dahulu mencoba ide-ide yang mereka dapatkan sampai ditemukan jawaban yang benar dan tepat. Aspek berpikir kreatif yang muncul pada tahapan ini yaitu aspek kelancaran keluwesan dan keaslian. Pada tahap verifikasi siswa ASD tidak menuliskan secara ekplisit pada jawaban sehingga peneliti menggali tahap ini melalui wawancara. Siswa ASD mengecek kembali ide/gagasan dengan cara mencoba kembali kemungkinan gagasan yang mereka temukan dan memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh dengan cara menghitung kembali. Aspek yang muncul pada tahapan ini yaitu aspek kelancaran keluwesan dan keaslian. Saran pada penelitian ini ada tiga hal yaitu yang pertama pada tahap persiapan siswa ASD mengalami kesulitan dalam memahami maksud pertanyaan pada soal karena ada istilah pada kehidupan sehari-hari yang belum mereka mengerti. Saran untuk penelitian selanjutnya atau guru di kelas inklusi untuk mengenalkan dan menggunakan istilah sehari-hari dalam proses pembelajaran maupun dalam penyusunan instrumen. Kedua pada tahap persiapan siswa ASD tidak terbiasa menuliskan informasi yang mereka pahami dari soal yaitu informasi yang diketahui dan ditanyakan secara tertulis sehingga saran untuk guru di kelas inklusi agar dapat membiasakan siswa ASD menuliskan informasi yang sudah dipahami. Ketiga pada tahap verifikasi siswa ASD sudah mengecek kebenaran ide atau jawaban namun tidak dituliskan pada lembar jawaban sehingga saran untuk guru di kelas inklusi dapat membiasakan siswa ASD menuliskan hasil memeriksa kembali jawaban yang diperoleh.