Tesis
Keefektifan bimbingan kelompok teknik sinemaedukasi berbasis structure learning approach (SLA) untuk mengembangkan perilaku asertif siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Ihza Chaidarotul Fahira
Abstrak
Asertif merupakan suatu perilaku yang memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan pokiran perasaan atau keinginannya secara jujur dan terbuka tanpa harus melukai perasaan orang lain. Perilaku asertif merupakan suatu keterampilan sosial yang pentik guna menjaga hubungan yang sehat dan seimbang dengan lingkungannya. Aspek perilaku asertif meliputi mengungkapkan perasaan negatif afirmasi diri dan mengungkapkan perasaan positif. Mengingat pentingnya memiliki perilaku asertif maka keterampilan sosial ini harus di tanamkan sejak dini seperti pada remaja awal yang setara dengan anak SMP. Pada usia remaja awal atau siswa SMP banyak sekali gejolak karena adanya peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja. Pada usia ini pula seringkali terjadi ketakutan akan penolakan atas kelompok yang berakibat pada kurangnya perilaku asertif pada kehidupan sehari-hari. Hal ini ditandai seperti adanya perilaku takut dalam memberikan pendapat sulit menolak ajakan teman serta kurang mampu untuk mengontrol emosi. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui keefektifan bimbingan kelompok teknik sinemaedukasi berbasis Structured Learning Approach. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental dengan nonequivalent control group design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 14 siswa dan penentuan siswa dilakukan secara acak dan menghasilkan 7 siswa dalam kelompok eksperimen dan 7 siswa dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menggnakan skala perilaku asertif berdasarkan teori oleh Galassi amp Galassi. Analisis deskriptif menggunakan nilai mean standar deviasi minimum dan kasimum dalam menghasilkan analisis data. Hasil analisis menunjukan bimbingan kelompok teknisk sinemaedukais berbais Structured Learning Approach efektif untuk mengembangkan perilaku asertif siswa SMP. Hal ini ditunjuukan melalui hasil Uji Wilcoxon pada kelompok ekspermen sebesar 0 018 lt 0 05 dan pada kelompok kontrol sebesar 0 017 lt 0 05 yang dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan antara hasil pre test dan post test pada kelompok eksperimen dan kontrol. Sedangkan hasil uji mann-whithney u test sebesar 0 002 lt 0 05 yang mana terdapat perbedaan hasil post tet antara kedua kelompok. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesis diterima yaitu bimbingan kelompok teknik sinemaedukasi berbasis Structured Learning Approach efektif untuk mengembangkan perilaku asertif siswa SMP. Saran bagi konselor konselor dapat menggunakan bimbingan kelompok teknik experiental learning sebagai alternatif untuk mengembangkan perilaku asertif siswa serta konselor sekolah dapat memilih film yang sesuai dan relevan dengan topik penelitian serta alur cerita yang menarik ketika menggunakan bimbingan kelompok teknik sinemaedukasi. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi lebih luas dengan berbagai konteks mengenai bimbingan kelompok teknik sinemaedukasi berbasis Structured Learning Approach seperti jenjang pendidikan yang berbeda atau kriteria kelompok serta pengembangan film yang lebih spesifik yang disesuaikan dengan topik penelitian.