Disertasi
Representasi budaya generasi Z pada buku kumpulan cerpen “Warna Merdeka Kala Korona” terbitan komunitas literasi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi / Rizmada Azzahra
Abstrak
Penelitian ini mengkaji representasi budaya generasi Z dalam kumpulan cerpen Warna Merdeka Kala Korona Terbitan Komunitas Literasi 45 Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Pada penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif yang mendeskripsikan nilai-nilai sosial budaya dan psikologi yang direfleksikan dalam narasi oleh Generasi Z. Hal ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang budaya dan identitas generasi tersebut. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik Paul Ric oelig ur penelitian ini berfokus pada analisis ide penulis gaya berbahasa Generasi Z dalam cerpen dan gaya penceritaan yang mencerminkan karakter serta pola kognitif Generasi Z. Sumber data pada penelitian ini adalah kumpulan cerpen berjudul ldquo Warna Merdeka Kala Korona rdquo yang diterbitkan oleh Komunitas Literasi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Data berupa 47 cerpen yang telah terpilih dari 75 cerpen yang ditulis dalam buku tersebut. Penyaringan data didasarkan pada rentang usia tokoh tema dan relevansi sosial konflik dan bahasa. Ide yang dikembangkan penulis menjadi sebuah karya merepresentasikan cara pandang Generasi Z terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Ide penulis merepresentasikan karakter Generasi Z melalui ide-ide dengan tema interaksi sosial masyarakat interaksi dalam keluarga pengembangan diri secara personal dan masyarakat dan cara bertahan hidup dalam menghadapi perubahan berbagai realitas sosial. Berdasarkan tema-tema tersebut ditemukan karakter Generasi Z yang adaptif fleksibel kreatif dan berani menerima resiko namun juga mudah terpengaruh oleh keterbukaan informasi yang mengakibatkan kerentanan terhadap ketidakstabilan psikologis gangguan kesehatan mental dan gaya hidup yang tidak sehat. Dalam kumpulan cerpen tersebut ditunjukkan gaya unik Generasi Z dalam merespon fenomena yang ada di sekitarnya. Gaya berbahasa Generasi Z dalam cerpen merepresentasikan karakter komunikasi yang adaptif responsif kreatif dan fleksibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z secara unik memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mengekspresikan identitas dan eksistensi diri. Identitas yang ditemukan adalah keterbukaan dalam perkembangan jaman yang ditunjukkan dengan penerimaan dan penggunaan bahasa-bahasa asing yang mencerminkan kemodernan generasi yang praktis ditunjukkan dengan bahasa yang sederhana tetapi to the point mengedepankan proses negosiasi dan memiliki kecenderungan hiperbolis. Gaya penceritaan yang digunakan Generasi Z dalam kumpulan cerpen ini adalah gaya penceritaan metode langsung dan tidak langsung Gaya penceritaan langsung memberikan kuasa penuh terhadap narrator dalam membangun cerita dilihat dari aspek penggunaan nama tokoh karakter penampilan tokoh dan karakteristik lain yang dibangun narrator. Sedangkan gaya penceritaan tidak langsung membutuhkan interpretasi dari pembaca untuk memahami karakter tokoh melalui dialog tindakan dan respon terhadap permasalahan di sekitarnya. Generasi Z lebih dominan menggunakan gaya penceritaan dengan metode tidak langsung merepresentasikan karakter Generasi Z yang terbuka fleksibel dan kritis. Berdasarkan temuan penelitian ini pola kognitif Generasi Z yang adaptif kreatif terbuka dan responsif dapat menjadi dasar untuk mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode ini dapat mendorong partisipasi aktif kolaborasi dan penggunaan teknologi digital yang sudah akrab dengan mereka seperti pendekatan berbasis proyek (project-based learning). Pendekatan ini memungkinkan siswa mengeksplorasi topik secara mandiri dengan dukungan teknologi seperti media sosial atau alat kolaborasi online. Selain itu pembelajaran yang melatih keterampilan berpikir kritis dan kreatif sangat relevan dengan cara Generasi Z merespon fenomena sosial secara fleksibel. Pada segi bahasa pola bahasa Generasi Z yang cenderung praktis ekspresif dan inklusif menunjukkan perlunya pengembangan pembelajaran yang melatih kemampuan komunikasi siswa. Guru dapat memanfaatkan pendekatan kontekstual dengan memasukkan kosakata dan ekspresi populer Generasi Z untuk membantu siswa memahami dan memanfaatkan bahasa secara efektif dalam konteks global. Temuan ini menjadikan pembelajaran tidak hanya menjadi lebih menarik dan relevan bagi Generasi Z tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan pemahaman yang mendukung pengembangan diri mereka secara holistik.