Disertasi
Kearifan lokal dalam berkomunikasi masyarakat nelayan Puger, Jember, Jawa Timur / Akhmad Dzukaul Fuad
Abstrak
Nelayan Puger adalah komunitas masyarakat nelayan yang hidup di pesisir pantai selatan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur. Topografi dan kerasnya laut selatan membentuk karakter yang kuat dan terbuka. Sikap terbuka dan penerimaan etnis pendatang menjadikan masyarakat nelayan Puger sebagai masyarakat yang multikultur dan multilingual. Penggunaan kode bahasa dan variasi bahasa dalam berkomunikasi merupakan cerminan sikap akomodatif masyarakat nelayan Puger terhadap budaya lain. Penelitian ini tidak hanya melihat kode bahasa dan variasinya sebagai sarana penyampaian pesan tapi sebagai cerminan sikap dan perilaku arif yang melekat dalam diri nelayan Puger. Penggunaan kode bahasa dan variasi bahasa membentuk pola yang mengekspresikan struktur sosial budaya masyarakat nelayan Puger. Pola komunikasi merupakan gambaran realitas struktur sosial budaya yang mengandung sistem nilai pengetahuan dan persepsi nelayan Puger tentang realitas dan entitas dalam kehidupan mereka. Pola relasi tersebut menjadi landasan penentuan fokus penelitian ini pada (1) kearifan lokal yang terepresentasikan dalam repertoar bahasa dalam berkomunikasi (2) kearifan lokal yang terepresentasikan dalam pola komunikasi (3) kearifan lokal yang terepresentasikan dalam kode bahasa dan variasi bahasa sebagai cerminan sistem nilai dan pengetahuan dan (4) kearifan lokal yang terepresentasikan dalam kode bahasa dan variasi bahasa sebagai cerminan pandangan dunia. Penelitian ini mengkaji kearifan lokal dari sudut pandang antropolinguistik. Pertama kajian antropolinguistik melihat masyarakat nelayan Puger sebagai masyarakat tutur yang mempertimbangkan aspek sosial budaya sebagai perhatian utama dalam melahirkan sebuah tuturan. Kedua antropolinguistik melihat pemaknaan dari setiap tuturan. Pemaknaan terhadap tuturan tidak hanya dari aspek leksikal akan tetapi pemaknaan yang bersumber dari konteks sosial budaya dalam peristiwa tutur. Ketiga antropolinguistik menjelaskan tuturan sebagai cara pandang masyarakat nelayan Puger terhadap jati diri dan alam di sekitarnya. Pengungkapan relasi bahasa dan budaya pada penelitian antropolinguistik menggunakan metode etnografi komunikasi dengan analisis SPEAKING. Analisis SPEAKING digunakan untuk mencari dan mendeskripsikan aspek sosial budaya yang turut hadir dan melatarbelakangi lahirnya sebuah tuturan. Analisis etnosemantik digunakan untuk mencari sistem klasifikasi sebagai cerminan sistem kognisi dan pendekatan atomistik logis digunakan untuk mengungkap cerminan struktur bahasa sebagai cerminan realitas dunia. Analisis SPEAKING menghasilkan pertimbangan sosio-kultural yang melatarbelakangi pemilihan kode bahasa atau variasi bahasa tertentu dalam komunikasi. Analisis tersebut juga dapat mengungkap power influence yang dimiliki penutur dan mitra tutur dalam peristiwa komunikasi. Memengaruhi dan dipengaruhi antara komunikan dan komunikator menentukan apakah pola tersebut bersifat simetris ataukah komplementer. Power dan influence menentukan pembentukan pola komunikasi masyarakat nelayan Puger dalam pola komunikasi kincir ranting katapel katapel terbalik cincin dan sarang lebah. Berdasarkan analisis data diperoleh sebelas repertoar bahasa dan enam pola komunikasi dalam tuntutan masyarakat nelayan Puger. Repertoar bahasa meliputi kode bahasa Jawa dengan variasinya ngoko dan kromo. Kode bahasa Madura dengan variasinya enja-iya engghi-bunten. Kode bahasa Arab dengan ragam fusha dan amiyah. Kode bahasa Indonesia dengan ragam formal dan informal. Bahasa Osing dan bahasa Mandar hanya didominasi dengan bahasa sapaan dan istilah kekerabatan. Pola komunikasi terdiri dari enam pola. Pertama pola komunikasi kincir sebagai pola yang terpusat dan hanya terdiri dari satu komunikan akibat tidak terdistribusinya kekuasaan dalam peristiwa komunikasi. Kedua pola ranting dibentuk oleh perpindahan pesan secara berurutan karena hadirnya komunikator dan komunikan baru pada setiap urutannya. Ketiga pola katapel merupakan pola yang terdiri dari dua komunikator dan hanya terdapat satu komunikan. Keempat pola cincin pola yang terbentuk akibat adanya pembagian kekuasaan yang merata pada setiap peserta tutur pada pola ini komunikan sekaligus menjadi komunikator. Kelima sarang lebah distribusi peran sebagai komunikator dan komunikan pada pola ini lebih merata dibandingkan pada pola roda. Pola keenam katapel terbalik merupakan pola yang terbentuk oleh penutur tunggal yang memberikan pesan kepada dua mitra tutur yang kemudian berlanjut seperti pola rantai pada setiap mitra tutur. Pada penelitian ini sistem klasifikasi yang diekspresikan dalam satuan lingual berupa kata frasa dan kalimat merupakan cerminan sistem nilai dan sistem pengetahuan. Satuan lingual tersebut juga mengekspresikan cara pandang masyarakat nelayan Puger terhadap diri dan dunianya. Berdasarkan analisis data satuan lingual dalam tuturan nelayan Puger dapat menjawab pertanyaan filosofis yang menghasilkan cerminan pandangan dunia masyarakat nelayan Puger dalam lima aspek. Aspek pertama cara nelayan Puger mempersepsikan jati dirinya sebagai nelayan yang pemberani inovatif adaptif dan mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Kedua satuan lingual yang mengekspresikan cara pandang nelayan Puger terhadap orang lain di luar komunitasnya sebagai sosok egaliter yang sama secara kedudukan sebagai manusia dan sosok yang tak bernyali sebesar masyarakat nelayan Puger. Ketiga satuan lingual yang mengekspresikan cara pandang nelayan Puger terhadap Tuhan sebagai pemberi penghidupan kehidupan dan keselamatan. Keempat ekspresi satuan lingual yang menggambarkan persepsi nelayan Puger tentang nilai. Kelima satuan lingual yang mengekspresikan cara pandang nelayan Puger terhadap laut.