Tesis
Efektifitas pembelajaran creative problem solving terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar stoikiometri siswa kelas X SMK Agrobisnis / Dyah Wijayanti
Abstrak
Materi stoikiometri memiliki karakteristik perpaduan konsep dan algoritmik. Banyak konsep yang harus dipelajari siswa dalam memahami materi stoikiometri seperti materi massa atom relatif (Ar) dan massa molekul relatif (Mr) persamaan reaksi hukum-hukum dasar kimia konsep mol dan kadar zat serta perhitungan kimia. Cara belajar konvensional (hafalan) kurang pahamnya manfaat terhadap kehidupan sehari hari serta proporsi pembelajaran teoritik lebih besar membuat siswa tidak bisa menerima pelajaran dengan baik serta tidak memiliki kebiasaan diskusi dan mengungkapkan pendapat yang baik. Hal ini menyebabkan nilai yang diperoleh pada pelajaran stoikiometri rendah (dibawah KKM). Oleh karena itu dibutuhkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi stoikiometri. Model pembelajaran yang dirasa sesuai adalah Creative Problem Solving. Model pembelajaran Creative Problem Solving menuntut siswa untuk mampu bekerja sama untuk memecahkan masalah. Pembelajaran model ini memungkinkan siswa bekerja sendiri diluar jam pelajaran kimia yang terbatas. Serta keterkaitan dengan pelajaran produktif (praktek) mendorong siswa untuk berfikir kritis. Sehingga penggunaan model pembelajaran ini diharapkan dapat menunjukkan perbedaan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar.Rancangan penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) tipe post-test only control group design untuk kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan model Creative Problem Solving (selanjutnya disebut CPS) dan kelas kontrol dengan model Problem Solving (selanjutnya disebut PS). Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X SMK NEGERI 1 BAKUNG yang berjumlah 110 siswa yang terbagi dalam 4 kelas. Sampel diambil secara acak dari populasi yang relatif sama kemampuannya dan terpilih kelas X-APAPL sebagai kelas kontrol dan kelas X-APHPi sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan adalah RPP LKS soal kemampuan berfikir kritis dan soal post tes. Soal kemampuan berfikir kritis digunakan untuk mengukur perbedaan kemampuan berfikir kritis tiap kelas (control dan eksperimen). Soal post tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah materi selesai dibelajarkan pada kelas PS dan kelas CPSHasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan kemampuan berfikir kritis antara kelas CPS dengan kelas PS. Nilai rata-rata skor kemampuan berfikir kritis pada siswa kelas CPS adalah 79 37 dan nilai rata-rata skor kemampuan berfikir kritis pada siswa kelas PS adalah 74 18. (2) Terdapat perbedaan hasil belajar pada siswa kelas CPS dengan siswa kelas PS. Nilai rata-rata hasil belajar pada siswa kelas CPS adalah 79 25 dan nilai rata-rata hasil belajar pada siswa kelas PS adalah 71 74. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar pada kelas CPS lebih tinggi daripada kelas PS.