Skripsi
Fenomenologi: gambaran psikolinguistik generasi z yang belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua: / Nadya Bella Meylinda
Abstrak
Generasi Z adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini tumbuh dalam era teknologi yang memiliki kemudahan akses ke berbagai media. Media yang beragam tersebut membuat banyaknya informasi 22 yang dapat diakses secara global dan tak terbatas. Kemajuan teknologi informasi seperti ini membuat Generasi Z sering terekspos budaya atau pun bahasa asing. Hal ini cenderung juga turut mempengaruhi cara mereka dalam belajar Inggris sebagai bahasa kedua. Dinamika proses mental yang terjadi pada pembelajaran bahasa kedua dikaji menggunakan pendekatan psikolinguistik. Saat ini belum ada penjelasan mengenai bagaimana kondisi psikolinguistik pada Generasi Z dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi psikolinguistik tersebut yang ditinjau dari tahapan pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa serta menganalisis unsur-unsur lain yang juga terlibat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi yang berfokus pada eksplorasi gaya pembelajaran yang dilakukan oleh 3 partisipan Generasi Z. Subjek dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dan pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan metode triangulasi sumber. Pada hasil penelitian ini ditemukan bahwa kondisi psikolinguistik yang tergambar pada Generasi Z dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua memiliki keterikatan dengan kemajuan teknologi. Hal ini membuat seluruh partisipan memiliki cara belajar yang cenderung mengandalkan internet sebagai media pembelajaran utama mereka. Selain itu kondisi psikolinguistik partisipan Generasi Z juga tidak terlepas dari keterlibatan motivasi belajar sebagai alasan utama yang mendasari seluruh partisipan untuk tergerak mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka. Selain itu peran dukungan sosial juga sangat dibutuhkan oleh setiap partisipan terlepas dari kebergantungan mereka terhadap internet.