Skripsi
Perilaku pencarian informasi siswa SLB Autis Lab Malang / Delila Rizky Febrianti
Abstrak
Pendidikan merupakan aspek krusial dimana semua orang memiliki hak dalam berpendidikan tak terkecuali seseorang yang memiliki autisme. Dalam pendidikan terdapat kegiatan belajar mengajar baik pada sekolah inklusi maupun SLB. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung ditemukan perilaku pencarian informasi. Perilaku pencarian informasi merupakan proses individu melakukan pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhannya. Lantas apakah perilaku pencarian informasi juga terjadi pada siswa berkebutuhan khusus seperti SLB . Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi yang dilakukan anak autis selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Penelitian ini akan dilakukan pada SLB Autis Lab Malang dimana SLB tersebut merupakan satu-satunya sekolah swasta terakreditasi A dan merupakan sekolah penggerak. Dalam penelitian ini akan menggunakan teori kuhlthau yang dikombinasikan dengan teori pembelajaran agar dapat menangkap perilaku pencarian informasi dari sisi autis secara baik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pengambilan informan berdasarkan teknik purposive sampling. Adapun kriteria pemilihan informan siswa autis berdasarkan tingkat keautisan anak tersebut dan dapat berkomunikasi dua arah. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwasannya bentuk perilaku pencarian informasi anak autis disini memunculkan beberapa tanda yang tidak sesuai dengan penjabaran berdasarkan teori kuhlthau. Pada tahapan inisiasi ditemukan bahwa kondisi kognitif anak autis memunculkan tanda jelas dikarenakan anak autis mampu memahami kebutuhan informasinya. Selain itu didapati hasil bahwa anak autis hanya mampu mengenali kebutuhan informasinya jika dihadapkan dengan sumber masalah secara langsung. Pada tahapan seleksi didapatkan hasil bahwasannya anak autis memunculkan perilaku mengamati sumber informasi dengan membolak-balikan kartu gambar yang diberikan dilanjutkan pada tahapan eksplorasi anak autis merasakan kebingungan akibat melimpahnya informasinya yang mereka dapatkan. Namun pada tahapan formulasi mereka mendapatkan kejelasan informasi dikarenakan adanya stimulus yang diberikan oleh guru pendamping. Dilanjutkan pada tahapan koleksi ditemukan beberapa anak autis mampu mengaitkan informasi yang mereka temukan dengan pengetahuan yang mereka miliki namun juga ditemukan anak autis yang masih membutuhkan stimulus dalam mengaitkan informasi yang mereka temukan dengan pengetahuannya. Hingga pada tahap presentasi ditemukan bahwasannya anak autis melakukan evaluasi hasil sebagai bentuk perilaku menyelesaikan proses pencarian informasi. Sehingga disimpulkan hasil dari penelitian ini ialah tingkatan autis tidak menjamin kemampuan mereka dalam mengolah suatu informasi atau melakukan pencarian informasi bahkan dalam berkomunikasi sekalipun.