Tesis
Asesmen, anak berkebutuhan khusus, Yayasan Bhakti Luhur Malang / Monika Sirken
Abstrak
Monika Sirken. 2024. Asesmen Pada Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Di Yayasan Bhakti Luhur Malang). Tesis Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dr. H. Ahmad Samawi M. Hum Pembimbing II Ediyanto M.Pd Ph.D. Kata Kunci Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus Yayasan Bhakti Luhur Malang Sistem Asesmen pada anak berkebutuhan khusus yang dilakukan yayasan Bhakti Luhur Malang sudah berlangsung 62 tahun. Suatu model asesmen holistik yang terdiri dari 7 tahap yakni proses identifikasi asesmen penyusunan program intervensi rencana transisi penentuan program kemandirian dan pelaksanaan program kemandirian. Asesmen ini sampai pada tujuan akhir yakni kemandirian anak berkebutuhan khusus. Ke tujuh tahap ini memiliki hubungan satu dengan yang lain dan menjadi satu kesatuan. Asesmen holistik ini mulai dari anak bangun pagi sampai tidur malam yang terdiri dari kegitan di wisma sekolah dan tempat terapi. Ada 3 tahap ini menarik dan menantang penulis untuk menggali mendalami pada penelitian ini. Peneliti mendeskripkan dan menulis kembali alurnya dengan lebih jelas dan mudah dimengerti. Penelitian ini menggunakan pedekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Desain ini digunakan karena sesuai dengan tujuan penelitian yakni bagaimana proses identifikasi asesmen dan penyusunan program bagi anak berkebutuhan khusus yang diterima dan tinggal di wisma Bhakti Luhur Malang. Sumber data diambil dengan teknik purposive sampling. Informan diambil dari pihak yayasan Bhakti Luhur Malang yang dipandang oleh peneliti sudah lama bekerja dan mengalami langsung proses asesmen pada anak berkebutuhan khusus sebanyak 13 orang. Data yang dianalisis adalah data wawancara dari 13 informan dan didukung oleh hasil observasi dan hasil studi dokumen yang relevan dengan hasil wawancara terhadap lingkungan kantor wisma sekolah dan tempat terapi sebagai data sekunder. Data dianalisis dengan cara dikondensasi penyajian data dan disimpulkan serta diverifikasi ini dibantu oleh perangkat NVIVO. Temuan penelitian bahwa proses identifikasi mulai dilakukan oleh staff penerimaan anak dengan menggunakan formulir protokol. Sejak orang tua atau wali datang mencari informasi bagaimana caranya anak masuk tinggal di wisma Bhakti Luhur Malang. Dilanjutkan dengan janjian bertemu dengan bagian konsultasi dan pemberkasan. Kemudian anak ditempatkan disalah satu wisma. Asesmen dilakukan diwisma melalui tahap observasi 3 bulan dengan Panduan Terpadau Bhakti Luhur) PTBL dan jadwal hidup harian. Hasil asesmen dimasukan dalam formulir protokol terapi. Sekolah oleh guru dengan menggunakan buku 3 M (membaca menulis menghitung) dengan metode multipleks untuk mengetahui kemampuan dasar akademis. Hasil asesmen dimasukan dalam protokol terapi. Bagian terapi dengan formulir terapi umum formulir kecacatan utama dengan membawa surat rekomendasi orthopedagog dan catatan dari bagian penerimaan. Tujuan observasi selain mengetahui kemampuan dan potensi anak juga menentukan kelayakan anak diterima atau tidak. Proses observasi oleh psikolog juga dilakukan dilanjutkan dengan tes IQ yang didukung oleh data dari wisma sekolah dan terapi. Hasil tes IQ ini dilengkapi dengan usulan saran latihan. Proses asesmen juga disertai dengan rujukan-rujukan ke ahli lain. Penyusunan program di wisma menggunakan PTBL dan usul saran dari tes IQ hasilnya Master. Hasil tes juga diberikan kepada sekolah sebagai kelengkapan untuk melanjutkan asesmen dan penyusunan PPI. Kemudian hasil tes itu juga diberikan ke bagian Terapi sebagai dasar untuk mengenal anak dengan lebih baik sehingga penyusunan program individual sesuai dengan kemampuan anak. Program di wisma itu dievaluasi perbulan semester dan tahunan. Evaluasi program bulanan itu menjadi patokan lagi untuk menyusun program selanjutnya begitu terus sampai anak berkebutuhan khusus dewasa atau siap kembali ke masyarakat atau hidup tetap di wisma Bhakti Luhur. Sedangkan disekolah mengikuti kurikulum sekolah. Bagian terapi evaluasi dilakukan setiap bulan semester dan tahunan. Jadi program dari 3 sisi yakni wisma sekolah dan terapi mengambil peran masing-masing saling melengkapi demi kemajuan dan kemandirian anak berkebutuhan khusus kelak. Temuan dari 3 proses penelitian diatas menunjukan bahwa orthopedagog mempunyai peran potensial mengelola hasil asesmen dari wisma sekolah dan terapi sehingga semua pihak memiliki gambaran yang jelas dari anak itu dan mudah untuk menyusun program yang holistik.