Skripsi
Pendidikan multikultural dalam program ”catur handayani” sebagai upaya penguatan wawasan kebangsaan santri Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’ / Achmad Mufti Fauzi
Abstrak
Pendidikan multikultural adalah gagasan luar biasa dalam sistem pendidikan di Indonesia. Implementasi pendidikan multikultural dapat dilakukan di pondok pesantren untuk memperkuat wawasan kebangsaan santri. Pendidikan multikultural penting diajarkan di pondok pesantren dikarenakan peluang intoleransi para santri yang memiliki beragam latar belakang suku dan budaya. Riset ini bertujuan untuk (1) mengetahui implementasi pendidikan multikultural dalam proyek ldquo Catur Handayani rdquo di pondok pesantren (2) mendeskripsikan faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan pendidikan multikultural dalam proyek ldquo Catur Handayani rdquo di pondok pesantren (3) menganalisis potensi dan perspektif santri mengenai pendidikan multikultural dalam proyek ldquo Catur Handayani rdquo sebagai upaya penguatan wawasan kebangsaan santri. Riset ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer adalah hasil wawancara dengan kepala pengurus dan santri pondok pesantren dan observasi kegiatan santri. Data sekunder diperoleh dari kajian literatur dan studi dokumen sesuai keperluan riset ini. Analisis data mengikuti analisis Moleong yang mencakup reduksi data display data verifikasi dan uji kredibilitas. Pendidikan multikultural dalam proyek ldquo Catur Handayani rdquo berupa program kolaborasi antara organisasi Munadzomah Santri Shirothul Fuqoha rsquo dengan akademisi. Program berjalan dengan baik dibuktikan bahwasannya santri mengalami perubahan perilaku positif seperti diadakannya dialog kebangsaan sebagai langkah minimalisir apatis politik upacara bendera berjalan optimal dan meningkatnya toleransi. Namun kepadatan kegiatan pondok pesantren menjadi batasan pendidikan multikultural untuk mencapai hasil yang lebih signifikan. Hal tersebut terjadi dikarenakan perspektif santri pondok pesantren yang cenderung mendahulukan ilmu agama baru kemudian menghubungkannya dengan wawasan kebangsaan. Riset ini merupakan bukti bahwasannya pendidikan multikultural berlaku di pondok pesantren dan kaum santri memiliki perspektif unik dalam memandang wawasan kebangsaan di Indonesia.