Disertasi
Identitas spasial dan sense of place dalam pembentukan kota layak huni di palembang / Eni Heldayani
Abstrak
Berbagai tantangan kerangka kerja kota layak huni seringkali menghadapi disparitas antara teori dan implementasi. Masalahnya adalah formulasi tata spasial dan aplikasinya kalah cepat berpacu dengan proses perubahan spasial yang ada dilapangan sehingga memicu unmanaged growth atau kesenjangan antara konsep ideal yang telah dirumuskan dengan gejala faktual di lapangan yang tidak dapat hindari. Pengetahuan baru tentang kota layak huni dan mempertimbangkan konteks kelokalan serta dimensi spasial kota menjadi penting bagi masa depan kota. Tujuan Penelitian ini adalah menghasilkan konseptual kota layak huni dengan memperhatikan konteks kelokalan kota dalam bingkai perspektif spasial. studi kasus di Kota Palembang. Secara khusus tujuan penelitian yaitu 1) Mengetahui perluasan kota secara spasial dan temporal di Palembang 2) Mengetahui pola sebaran tingkat kelayakhunian kota yang terekspresikan dalam identitas spasial (spatial identity) dan rasa tempat (sense of place) di Palembang 3) Menganalisis perluasan kota dengan identitas spasial dan rasa tempat untuk pembentukan kota layak huni di Palembang dan 4) Menghasilkan pengetahuan baru tentang kota layak huni di Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif-analitis dan analisis spasial untuk mengidentifikasi pola dan hubungan spasial dari tingkat kelayakan huni di berbagai unit wilayah dalam kota. Melalui evaluasi dan integrasi konteks kelokalan ke dalam kerangka kota layak huni penelitian ini berupaya menghasilkan model yang lebih relevan dan aplikatif untuk perencanaan dan pengembangan kota yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup penduduk. Sitensis temuan dibagunan secara ilmiah dengan pendekatan berbasis indikator (indikator-based approach) untuk merumuskan kontekstual kota layak huni. Temuan Penelitian ini menunjukkan bahwa pertama perluasan Kota Palembang menunjukkan evolusi dari pola radial sentrifugal menuju pola yang lebih kompleks dengan kecenderungan perkembangan yang kuat ke arah utara dan barat laut. Dinamika ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti infrastruktur ketersediaan lahan dan kemungkinan munculnya inti-inti pertumbuhan baru di luar Central Business District (CBD) tradisional. Pada awal periode pengamatan perluasan kota Palembang mengikuti pola radial sentrifugal yang terpusat pada CBD. Seiring waktu setelah tahun 2008 arah perkembangan kota Palembang bergeser ke arah utara dan barat laut. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan tutupan lahan terbangun kelas sedang di wilayah tersebut. Selanjutnya terjadi penurunan tutupan lahan terbangun kelas tinggi di kuadran utara pada tahun 2023 serta penurunan kelas tutupan lahan di kuadran barat dan barat laut menjadi kelas sedang. Dalam kurun waktu lima tahun antara 2003 hingga 2023 perkembangan ke arah barat barat laut dan utara cenderung konsisten terutama setelah tahun 2008. Hal ini memperkuat indikasi adanya pergeseran pola perkembangan kota dari yang murni radial sentrifugal menjadi lebih polisentris atau mengikuti koridor sektoral ke arah utara dan barat laut. Kedua Sebaran Kota Layak Huni di Palembang tidak sesuai dengan perluasan perkotaan karena hanya kurang dari 40 persen indikator kota layak huni terpenuhi berada di area Barat Laut 40 persen di Timur Laut dan 20 Persen ke Barat Daya. Hal ini terjadi dikarenakan area-area tersebut merupakan pusat kegiatan masyarakat sehingga prioritas pembangunan perkotaan berupa ketercukupan fasilitas sentra kegiatan area bisnis dan ruang hijau tersedia di Barat Daya masih mendominasi dibanding dengan wilayah lain. Ketiga kelayakhunian Kota Palembang menunjukkan ketidakmerataan tingkat kelayakhunian antar kecamatan. Beberapa kecamatan telah memenuhi sebagian besar indikator kota layak huni dengan baik sementara kecamatan lain masih menghadapi tantangan signifikan dalam penyediaan fasilitas infrastruktur dan kualitas lingkungan hidup. Informasi mengenai kenyamanan termal dan proporsi lahan terbangun menambahkan kompleksitas pada analisis menunjukkan bahwa pembangunan fisik kota perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas lingkungan dan kenyamanan. Keempat pengetahuan baru konsep Kota Layak Huni Palembang menawarkan visi kota layak huni yang unik dan responsif terhadap karakteristik spesifik Palembang dengan mengintegrasikan morfologi Sungai Musi iklim tropis konsep 15-minute city dan teknologi smart city. Palembang dapat menciptakan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan nyaman efisien dan berdaya saing. Pendekatan implementasi yang kolaboratif partisipatif dan berbasis data akan menjadi kunci keberhasilan mewujudkan visi ini.