Skripsi
Identifikasi makna semiotika puisi karya li bai untuk menunjang pembelajaran matakuliah kesusastraan Tiongkok / Nur Ainul Hanifah
Abstrak
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengungkapkan ekspresi pikiran perasaan dan pengalaman manusia yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan sosial. Dalam kesusastraan Tiongkok klasik puisi memiliki peranan penting dalam meinterpretasikan kehidupan masyarakat pada masanya. Puisi klasik Tiongkok merupakan salah satu bentuk karya sastra yang tidak hanya merefleksikan ekspresi perasaan dan pengalaman manusia tetapi sebagai sarana penting dalam menyampaikan nilai-nilai budaya dan kehidupaan. Salah satu penyair besar dari dinasti Tang adalah Li Bai yang dikenal dengan gaya puisinya yang ekspresif dan penuh makna simbolik. Penelitian ini berfokus pada tiga puisi karya Li Bai yang terdapat dalam buku Tangshi Yibai Shou yaitu 1) [y ugrave ji yuan] lsquo Gundah gulana di Tangga Giok rsquo 2) [yu agrave n q iacute ng] lsquo Dendam Kesumat rsquo 3) [xi agrave ji ngl iacute ng lsquo Turun menuju Jiangling rsquo . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem tanda ikon indeks dan simbol dalam puisi-puisi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika Peirce yang membagi tanda menjadi tiga jenis utama yaitu ikon (tanda yang memiliki kemiripan dengan objeknya) indeks (tanda yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan objeknya) dan simbol (tanda yang memiliki hubungan berdasarkan konvensi atau kesepakatan sosial). Data diperoleh dari tiga puisi Li Bai dalam buku Tangshi Yibai Shou. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode baca dan catat kemudian dianalisis menggunakan model semiotika Peirce untuk mengidentifikasi ikon indeks dan simbol yang terkandung dalam puisi tersebut. Puisi [y ugrave ji yuan] lsquo Gundah gulana di Tangga Giok rsquo memiliki indeks [y egrave ji ] lsquo malam yang panjang rsquo menggambarkan kesepian mendalam simbol [y ugrave ji ] lsquo tangga giok rsquo melambangkan status sosial tinggi sekaligus keterasingan ikon [qi yu egrave ] lsquo bulan musim gugur rsquo merepresentasikan keindahan yang jauh dan sulit digapai. Puisi [yu agrave n q iacute ng] lsquo Dendam Kesumat rsquo memiliki indeks [p iacute n eacute m eacute i] lsquo alis berkerut rsquo menggambarkan ekspresi wajah penuh kesedihan dan kecemasan simbol [m ir eacute n] lsquo wanita cantik rsquo bukan hanya merujuk pada kecantikan fisik tetapi juga melambangkan keanggunan dan pengorbanan ikon [l egrave ih eacute n sh ] lsquo jejak air mata yang basah rsquo adalah gambaran visual dari kesedihan yang mendalam. Puisi [xi agrave ji ngl iacute ng] lsquo Turun Menuju Jiangling rsquo indeks [qi nl ji ngl iacute ng y r igrave h aacute i] lsquo ribuan mil menuju Jiangling terlampaui dalam sehari rsquo menggambarkan perjalanan yang cepat dan refleksi kehidupan simbol [b aacute i d igrave ] lsquo Kota Emperor Putih rsquo melambangkan keindahan dan kejayaan masa lalu ikon [q ngzh u] rsquo perahu ringan rsquo merepresentasikan perjalanan yang tenang dan harmonis dengan alam. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ketiga puisi karya Li Bai mengandung sistem tanda semiotika Peirce berupa ikon indeks dan simbol. Simbol dan indeks menjadi kategori tanda yang paling banyak ditemukan menunjukkan kuatnya pengaruh konvensi budaya dan hubungan eksistensial pada puisi dinasti Tang. Tema yang diangkat terkait kerinduan perpisahan kesedihan dan refleksi kehidupan yang diungkapkan melalui relasi tanda dan objek yang erat dengan budaya serta alam. Pemahaman terhadap semiotika dalam puisi dinasti Tang dapat membantu mahasiswa dalam menginterpretasikan makna mendalam pada karya sastra dan meningkatkan pemahaman budaya Tiongkok secara lebih luas.