Skripsi
Perbedaan metode think talk write dan demonstrasi terhadap hasil belajar teori produktif kelas x teknik pengelasan SMKN 10 Malang / Dimas Ekananda Adi Pratama
Abstrak
Penelitian ini di latar belakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran teori produktif di kelas X Teknik Pengelasan SMKN 10 Malang yang disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang monoton dan kurang melibatkan keaktifan siswa. Peneliti mengusulkan penerapan metode pembelajaran Think Talk Write (TTW) sebagai alternatif yang lebih aktif dibandingkan metode demonstrasi yang selama ini dominan digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan (1) Bagaimana hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Think Talk Write (TTW) kelas X jurusan teknik pengelasan di SMKN 10 Malang. (2) Bagaimana hasil belajar siswa dengan menggunakan metode demonstrasi kelas X jurusan teknik pengelasan di SMKN 10 Malang. (3) Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa kelas X jurusan teknik pengelasan di SMKN 10 Malang setelah penerapan metode Think Talk Write (TTW) dengan kelas penerapan metode demonstrasi. Metode Think Talk Write (TTW) adalah pendekatan konstruktivis yang terdiri dari tiga tahap berpikir (think) berbicara (talk) dan menulis (write) yang membantu siswa membangun pemahaman secara aktif dan kolaboratif. Sementara itu metode demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menekankan peragaan langsung oleh guru untuk menjelaskan konsep atau prosedur tertentu. Kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hasil belajar adalah kompetensi spesifik yang dikuasai siswa setelah menempuh proses pembelajaran serta aspek-aspeknya terdiri dari kognitif afektif dan psikomotorik. Materi ajar yang digunakan dalam penelitian yakni pengukuran dengan jangka sorong dan mikrometer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experimental design) dan model nonequivalent control group design. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yaitu kelas eksperimen yang diajar dengan metode TTW dan kelas kontrol dengan metode demonstrasi masing-masing berjumlah 36 siswa. Data dikumpulkan melalui tes pretest dan posttest kemudian dianalisis menggunakan uji independent sample t-test pada taraf signifikansi 0 05. Hasil penelitian menunjukkan hasil data awal kemampuan siswa dianalisis melalui pretest dan menunjukkan bahwa kedua kelompok (kelas eksperimen dan kelas kontrol) memiliki tingkat kemampuan awal yang relatif homogen dengan rata-rata nilai 37 12 dan 36 36. Setelah perlakuan diberikan data hasil belajar siswa dikumpulkan melalui posttest dan menunjukkan adanya peningkatan nilai yang signifikan pada kelompok yang dibelajarkan menggunakan metode TTW. Rata-rata hasil belajar siswa pada kelas TTW adalah 77 73 sedangkan kelas dengan metode demonstrasi hanya mencapai rata-rata 52 20. Hasil uji-t terhadap data posttest menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0 001 ( lt 0 05) yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Selain itu analisis N-Gain menunjukkan bahwa metode TTW memberikan peningkatan yang lebih tinggi terhadap hasil belajar dibandingkan metode demonstrasi. Keseluruhan data mendukung bahwa metode TTW lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi teori produktif khususnya pada topik pengukuran dengan jangka sorong dan mikrometer. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat perbedaan signifikan antara metode TTW dan demonstrasi terhadap hasil belajar siswa dengan metode TTW terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar teori produktif. Siswa diajak untuk berpikir secara mandiri berdiskusi dengan teman sekelompok dan menuangkan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Metode ini menjadikan pembelajaran lebih interaktif dan bermakna. Oleh karena itu peneliti menyarankan (1) Siswa diharapkan lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran agar mampu mengembangkan potensi dirinya secara maksimal. (2) Sekolah diharapkan dapat mampu memfasilitasi pelatihan bagi guru terkait implementasi metode ini. (3) Guru mulai beradaptasi dengan metode TTW untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa. (4) Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan cakupan materi yang lebih luas atau diterapkan dalam konteks praktik pembelajaran vokasional lainnya.