Skripsi
Pengendalian kualitas produksi Keripik Tempe Sari Rasa (Produk UMKM Sari Rasa Malang) menggunakan Statistical Process Control (spc) / MUHAMMAD RYAN FADHILA
Abstrak
Keripik tempe dari Kampung Sanan Malang adalah produk khas yang sangat diminati wisatawan. Namun produksi keripik tempe menghadapi tantangan seperti tempe yang mudah rusak dan variasi dalam kualitas potongan. UMKM Sari Rasa Malang mengalami masalah dengan inkonsistensi kualitas yang berdampak pada penurunan penjualan. Untuk mengatasi masalah ini pengendalian kualitas yang efektif diperlukan.Penelitian ini menggunakan metode Statistical Process Control (SPC) untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses produksi keripiktempe Sari Rasa sehingga dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi serta mengurangi kerugian akibat produk cacat. Statistical Process Control akan membantu dalam pengelolaan proses dari awal hingga produk akhir dan memungkinkan penilaian yang lebih baik terhadap kerusakan produk dan penyebabnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Statistical Process Control (SPC) untuk menganalisis dan mengendalikan kualitas produksi. Flowchart digunakanuntuk memetakan proses kerja sementara check sheet mencatat frekuensi cacat. Histogram membantu memahami distribusi data sedangkan control chart memantau stabilitas proses. Untuk mengidentifikasi penyebab utama masalah digunakan diagram Pareto dan fishbone diagram yang mengelompokkan faktor-faktor penyebab. Selain itu scatter diagram menganalisis hubungan antar variabel yang mempengaruhi kualitas. Melalui alat-alat SPC ini penelitian dapat mendeteksi sumber ketidaksesuaian dan memberikan rekomendasi perbaikan berbasis data. Hasil rekapitulasi selama 4 bulan jika cacat proses yang paling signifikan adalah ldquo Warna tidak seragam rdquo dengan total 1123 kasus dengan persentase akumulasi 33%. Ini diikuti oleh. Keripik Patah menduduki posisi kedua dengan jumlah 707 unit memberikan kontribusi tambahan sebesar 22% terhadap akumulasi sehingga total kumulasi mencapai 55%. Terlalu Garing berada di posisi ketiga dengan 641 unit menambah kontribusi 19% sehingga totalkumulasi menjadi 74%. Jenis cacat lainnya yaitu Kemasan Rusak dan Keripik Gosong masing-masing menyumbang 15% (499 unit) dan 11% (385 unit) menjadikan total kumulasi cacat mencapai 100%. Berdasar pada diagram Pareto diketahui bahwa tingkat kesalahan dalam proses paling tinggi disebabkan oleh warna yang tidak seragam mencapai 1123 kasus denganpersentase akumulasi 33%. Selain itu hasil dari diagram sebab akibat (cause and effect diagram) untuk proses produksi keripik tempe menunjukkan berbagai faktor penyebab kecacatan tersebut serta saran perbaikan yang diperoleh dari metode 5W 1H yaituketerampilan karyawan dalam menangani proses produksi sebagai faktor manusia yang mempengaruhi motivasi dan keterlibatan karyawan dan tingkat pelatihan karyawan. Faktor metode yaitu prosedur produksi yang tepat dan Standar operasi produksi yang jelas. Faktor lingkungan yaitu suhu saat produksi kebersihan area produksi kontaminasi lingkungan dan suhu ruangan.Faktor measurement yaitu ketepatan alat pengukuran yang digunakan danfrekuensi pengukuran yang sesuai digunakan dan frekuensi pengukuran yang sesuai.