UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Disertasi

Konflik kognitif siswa dalam memahami pecahan ditinjau dari proses berpikir konseptual / Iwan Setiawan HR

Setiawan Hr, Iwan - Nama Orang;

Abstrak
Dalam pembelajaran matematika terutama pada konsep pecahan tidak biasa (improper fraction) masih banyak siswa mengalami kesulitan memahami dan merepresentasikan konsep tersebut secara visual. Kesulitan ini menjadi penyebab munculnya konflik kognitif yaitu kondisi ketika pemahaman awal siswa tidak sejalan dengan informasi baru yang mereka hadapi. Ketika siswa diminta menggambarkan atau merepresentasikan pecahan dalam bentuk representasi visual seperti gambar namun tidak memahami makna nilai pecahan secara mendalam sehinga muncul kebingungan dan ketidaksesuaian antara konsep yang mereka miliki dengan tugas yang dihadapi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik kognitif siswa dalam memahami pecahan ditinjau dari proses berpikir konseptual. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman siswa dalam merepresentasikan pecahan melalui gambar serta proses berpikir yang menyertainya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang memungkinkan peneliti menggambarkan fenomena secara sistematis dan rinci. Teknik pengumpulan data meliputi pemberian soal yang meminta siswa merepresentasikan pecahan dalam bentuk gambar serta wawancara mendalam semi-terstruktur untuk mengeksplorasi proses berpikir mereka. Subjek penelitian terdiri dari empat siswa kelas VII dari tiga sekolah berbeda yang dipilih berdasarkan kriteria variasi jawaban jawaban benar jawaban salah dan jawaban benar tetapi kurang lengkap. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dibantu oleh pedoman wawancara semi-terstruktur yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan transkripsi kondensasi data penyajian dalam bentuk narasi dan tabel serta penarikan kesimpulan. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi metode. S1 menunjukkan beragam respon kognitif saat menyelesaikan permasalahan pecahan. S1 memperlihatkan pemahaman numerik yang cukup kuat namun mengalami konflik ketika harus menyamakan dua pecahan dengan penyebut berbeda. Ketidaksesuaian antara representasi visual dan konsep bilangan mendorongnya untuk merevisi pemahaman melalui proses reflektif. S2 yang juga memahami konsep numerik pecahan melakukan kesalahan dalam representasi visual yakni dengan membagi bentuk secara tidak sesuai dengan penyebut serta menggunakan analogi yang menyesatkan. Konflik kognitif muncul ketika hasil visual yang dibuat tidak selaras dengan pemahaman bilangan yang dimiliki. S3 menunjukkan adanya miskonsepsi mendasar terutama dalam membalik posisi pembilang dan penyebut agar sesuai dengan gambar yang ia buat. Ia mengalami kebingungan ketika diminta menggambarkan pecahan lebih dari satu kesatuan karena terjebak pada anggapan bahwa pecahan selalu bernilai kurang dari satu. Sementara itu S4 mampu menyatakan perbandingan nilai pecahan dengan tepat namun tidak berhasil merepresentasikan struktur pecahan tersebut secara visual secara lengkap. Ia mengalami konflik kognitif ketika tidak dapat menjelaskan hubungan antara pembilang dan penyebut secara eksplisit dalam gambar yang dibuat. Dari keempat subjek tersebut tampak bahwa konflik kognitif umumnya terjadi ketika pengetahuan awal siswa bertabrakan dengan informasi atau tuntutan baru dalam soal. Konflik ini diperkuat oleh ketidaksesuaian antara representasi numerik dan visual kesalahan dalam penggunaan analogi dan miskonsepsi tentang konsep pecahan lebih dari satu. Selain itu konflik kognitif juga berkaitan erat dengan karakteristik berpikir siswa. Siswa yang terbiasa berpikir konkret mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan konsep yang lebih kompleks seperti improper fractions. Beberapa siswa bahkan sudah menunjukkan konflik sejak awal saat harus memahami hubungan antara pembilang dan penyebut secara visual. Mereka cenderung berpikir secara mekanis dan prosedural tanpa memahami konsep yang mendasari setiap langkah. Dalam banyak kasus siswa juga kesulitan menerapkan rumus karena lemahnya keterkaitan antar konsep dasar matematika. Ketika dihadapkan pada variasi soal mereka gagal menyesuaikan strategi karena tidak memahami prinsip di balik prosedur yang digunakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik kognitif siswa dalam memahami pecahan jika ditinjau dari proses berpikir konseptual dapat dikategorikan ke dalam tiga karakteristik utama yaitu integratif terhambat dan terbatas. Karakteristik Integratif ditandai dengan kesadaran siswa terhadap adanya konflik kognitif yang muncul saat terdapat ketidaksesuaian antara representasi seperti gambar dan pemahaman bilangan pecahan. Siswa dengan tipe ini menunjukkan pemikiran reflektif melakukan evaluasi terhadap penyelesaian yang telah dilakukan dan mencari strategi alternatif. Konflik kognitif pada tipe ini bersifat produktif dan dapat diselesaikan secara konseptual karena siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan fleksibel. Karakteristik Terhambat ditunjukkan oleh siswa yang tidak menyadari adanya konflik kognitif dan cenderung berpikir secara pasif. Siswa pada tipe ini tidak melakukan evaluasi atau refleksi serta menunjukkan ketergantungan tinggi pada bantuan eksternal. Akibatnya konflik kognitif tidak terselesaikan karena kemampuan berpikir konseptual belum berkembang dan siswa belum mampu membangun makna atau keterkaitan antar konsep pecahan. Karakteristik Terbatas menggambarkan siswa yang menyadari adanya konflik kognitif namun menanggapinya secara intuitif atau spontan seperti mengabaikan atau melompati konflik tersebut. Meskipun terdapat refleksi sifatnya terbatas dan lebih berorientasi pada prosedur daripada pemahaman konseptual. Siswa cenderung cepat dalam menjawab tanpa peninjauan ulang dan ketika mengalami kesulitan tidak memperbaiki pemahaman secara mendalam. Akibatnya konflik kognitif hanya terselesaikan sebagian atau bahkan tetap tidak tuntas meskipun jawabannya tampak benar secara permukaan.


Informasi Detail
DDC
Rd 513.26076 SET k
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Matematika, 2025.
Deskripsi Fisik
xvii, 166 lembar : ilus. ; 30 cm.
Bahasa
Indonesia
No Reg
00155/RD/25
Edisi
Disertasi(Pascasarjana)--Universitas Negeri Malang. 2025
Subjek
1. PECAHAN - BERPIKIR KONSEPTUAL
2. FRACTION - CONCEPTUAL THINKING

Pembimbing
1. Prof. Drs. Purwanto, Ph.d.; 2. Dr. Sukoriyanto, M.si; 3. Dr. I Nengah Parta, S.pd, M.si
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik