Tesis
Meningkatkan kemampuan decoding dan memahami makna kata pada anak tunarungu melalui metode struktural analitik sintetik berbasis multimodalitas di SLB-B Bhakti Luhur Malang. / Klemensia Nini
Abstrak
RINGKASAN Nini Klemensia. 2023. Meningkatkan Kemampuan Decoding dan Memahami Makna Kata Pada Anak Tunarungu Melalui Metode Struktural Analitik Sintetik Berbasis Multimodalitas di SLB-B Bhakti Luhur Malang. Tesis Jurusan Pendidikan Khusus Program Magister Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Ahsan Romadlon Junaidi M.Pd. (2) Dr. Wiwik Dwi Hastuti M.Pd. Kehilangan pendengaran baik sebagian maupun total mempengaruhi perkembangan bahasa bicara dan komunikasi yang menyebabkan anak tunarungu terlambat menguasai bahasa dibandingkan anak pada umumnya. Tantangan utama mereka adalah pemahaman membaca namun dengan kemampuan decoding dan pemahaman kata yang baik mereka dapat belajar membaca untuk memperluas pengetahuan. Penelitian ini menggunakan metode SAS berbasis multimodalitas untuk meningkatkan kemampuan decoding dan pemahaman makna kata dimulai dengan pengajaran pemahaman tulisan dan pengolahan kosa kata dalam bacaan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksperimen dengan desain single subject research A-B-A-B dan cross variables yang dilakukan di SLB Bhakti Luhur Malang pada 3 subyek tunarungu sejak lahir. Penelitian terdiri dari 21 sesi dengan 4 sesi untuk baseline 1 (A1) 7 sesi untuk intervensi-1 (B1) 3 sesi untuk baseline-2 (A2) dan 7 sesi untuk intervensi-2 (B2). Pengumpulan data dilakukan melalui tes pada fase baseline 1 dan 2 serta observasi pembelajaran dengan instrumen tes hasil belajar dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui analisis dalam kondisi dan antar kondisi serta analisis gabungan (cross variables) berfokus pada perubahan masing-masing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek KMK mengalami peningkatan kemampuan decoding di semua fase dengan kenaikan signifikan pada fase B2. Pemahaman makna kata meningkat di fase A2 dan stabil di fase B2. Pada fase A1 decoding stabil (100%) tetapi pemahaman makna kata rendah (50%). Fase B1 menunjukkan stabilitas baik pada decoding (86%) dan pemahaman makna kata (100%). Perbandingan antar kondisi B2/A2 kedua variabel meningkat (decoding 10 makna kata 2) sedangkan pada B1/A1 decoding meningkat ( 15) tetapi makna kata menurun. Persentase overlap pada perbandingan B2/A2 adalah 43% sedangkan B1/A1 adalah 0%. Subyek RS menunjukkan perubahan positif pada kemampuan decoding dan makna kata. Decoding stabil 100% pada fase A1 B1 dan A2 namun sedikit menurun di fase B2 (82%). Pemahaman makna kata stabil di 75% pada A1 71% pada B1 dan 100% pada A2 dan B2. Peningkatan terjadi di setiap fase dimana A1 ( 8 decoding 10 makna kata) B1 ( 4 decoding 10 makna kata) A2 ( 4 decoding 10 makna kata) dan B2 ( 8 decoding 5 makna kata). Perbandingan B2/A2 menunjukkan dampak positif dengan stabilitas pada kedua variabel sementara pada B1/A1 decoding stabil namun makna kata mengalami perubahan. Pada perbandingan B2/A2 decoding turun dari 75 ke 79 (-4) dan makna kata turun dari 80 ke 75 (-5). Di B1/A1 decoding turun signifikan dari 70 ke 50 (-25) dan makna kata turun dari 65 ke 35 (-30). Persentase overlap untuk B2/A2 adalah 29% (2 7) sementara untuk B1/A1 lebih tinggi 86% (6 7) dan tidak ada overlap pada perbandingan lainnya. Subyek AFR menunjukkan decoding stabil di fase A1 A2 dan B2 (100%) tetapi menurun sedikit di fase B1 (86%). Makna kata di fase B1 dan B2 (86%). Pada perbandingan B2/A2 kedua variabel stabil untuk decoding dan positif untuk makna kata. Pada perbandingan B1/A1 kedua variabel menunjukkan dampak positif. Dalam perubahan level pada B2/A2 decoding turun dari 82 ke 75 ( 13) makna kata tetap 80. Pada B1/A1 decoding turun dari 71 ke 50 (-21) dan makna kata turun dari 60 ke 45 (-15). Persentase overlap pada B2/A2 adalah 0% sementara pada B1/A1 adalah 29%. Dalam analisis gabungan atau cross variables perubahan variabel decoding dan makna kata pada ketiga subyek terlihat bahwa meskipun keduanya menunjukkan perubahan namun hubungan antara peningkatan decoding dan pemahaman makna kata tidak selalu konsisten. Beberapa fase menunjukkan peningkatan signifikan pada decoding namun pemahaman makna kata tidak selalu meningkat sebanding. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode SAS berbasis multimodalitas dapat meningkatkan kemampuan decoding dan pemahaman makna kata pada anak tunarungu meskipun hasilnya bervariasi antar subjek dan fase.