Disertasi
Model helix berbasis sosio-ekologi untuk mitigasi konflik agraria dalam proyek pembangunan bendungan (studi pra-larap Bendungan Mujur di Kabupaten Lombok Tengah) / Ramli Akhmad
Abstrak
Ramli Akhmad. 2025. Model Helix Berbasis Sosio-Ekologi untuk Mitigasi Konflik Agraria dalam Proyek Pembangunan Bendungan (Studi Pra-LARAP Bendungan Mujur di Kabupaten Lombok Tengah). Disertasi. Program Studi Pendidikan Geografi. Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Sumarmi M.Pd. (II) Prof. I Komang Astina M.S. Ph.D. (III) Dr. Satti Wagistina S.P. M.Si. Kata Kunci Model Helix Sosio-ekologi Mitigasi Konflik Agraria Pembangunan Bendungan Penelitian ini bertujuan untuk membangun Model Helix Berbasis Sosio-Ekologis yang berfungsi dalam memitigasi konflik agraria pada proyek pembangunan bendungan dengan fokus studi pada tahap pra-LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) Bendungan Mujur di Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Latar belakang penelitian didasarkan pada tingginya kompleksitas konflik agraria yang dipicu oleh rendahnya partisipasi masyarakat ketimpangan distribusi informasi serta belum optimalnya integrasi nilai-nilai lokal dalam perencanaan pembangunan infrastruktur berskala besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Structural Equation Modeling ndash Partial Least Square (SEM-PLS). Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada masyarakat terdampak dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Model analisis melibatkan tiga variabel independen faktor internal sosio-ekologis (X1) faktor eksternal sosio-ekologis (X2) dan aktor helix (X3) satu variabel mediator yaitu partisipasi masyarakat (Z) dan satu variabel dependen yaitu mitigasi konflik agraria (Y). Hasil analisis menunjukkan bahwa secara langsung faktor internal sosio-ekologis berpengaruh signifikan terhadap mitigasi konflik agraria (X1 rarr Y beta 0.020) menunjukkan pentingnya kekuatan sosial internal masyarakat seperti kohesi sosial dan pengetahuan lokal. Demikian pula faktor eksternal yang mencakup dukungan regulatif dan kelembagaan juga berpengaruh signifikan terhadap mitigasi konflik agraria (X2 rarr Y beta 0.024) yang menegaskan peran penting kebijakan dan institusi formal dalam menyelesaikan konflik. Aktor helix terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat (X3 rarr Y beta 0.035) dan secara teoritis memperkuat konsep baru yaitu Hepta Helix yang mencakup tujuh aktor pemerintah akademisi pelaku industri masyarakat media tokoh adat dan LSM. Pengaruh gabungan ketiga komponen helix (X1 X2 X3) terhadap partisipasi masyarakat menghasilkan R sup2 sebesar 2 9% yang menunjukkan bahwa masih terdapat variabel laten lain yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pembangunan bendungan. Namun secara simultan gabungan faktor internal eksternal dan partisipasi masyarakat memberikan kontribusi yang besar terhadap mitigasi konflik agraria dengan R sup2 sebesar 54 5% yang mencerminkan kekuatan prediktif model dalam menjelaskan dinamika konflik agraria. Melalui hasil tersebut penelitian ini berhasil merumuskan Model Helix Berbasis Sosio-Ekologis yang mengintegrasikan peran aktor multilevel dengan memperhatikan dinamika internal masyarakat serta nilai-nilai lokal seperti awiq-awiq dalam pengelolaan sumber daya dan penyelesaian konflik. Model ini tidak hanya memperkaya khazanah teoritis dalam studi pembangunan dan konflik agraria tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi perencanaan infrastruktur yang lebih inklusif partisipatif dan kontekstual terhadap kondisi sosial dan ekologi.