Skripsi
Eksplorasi antimikroba ekstrak etil asetat jamur endofit daun sukun (artocarpus altilis) / Naila Nur Alifah
Abstrak
Penyakit menular atau infeksi merupakan penyakit yang menimbulkan berbagai gejala klinis yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri virus jamur maupun parasit. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018 perkembangan penyakit infeksi di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi disebabkan oleh bakteri dan jamur. Prevalensi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur meningkat juga disebabkan tingginya kasus resistensi antibiotik. Antibiotik merupakan zat kimia yang memiliki kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan dari suatu mikroorganisme. Kesalahan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resistensi mikroba terhadap antibiotik. Global Antimicrobial Surverillance System (GLASS) melaporkan penyebaran yang luas terhadap resistensi antibiotik dari 500.000 orang yang terinfeksi di 22 negara. Bakteri Staphylococcus aureus Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae merupakan bakteri yang paling banyak dilaporkan. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai bahan antibiotik atau antimikroba adalah daun sukun (Artocarpus altilis). Daun sukun memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid tanin saponin dan flavonoid. Untuk menghindari eksploitasi bahan alam dilakukan eksplorasi senyawa metabolit sekunder dengan jamur endofit. Jamur endofit merupakan mikroorganisme berkoloni yang memiliki kemampuan dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang mirip dengan tumbuhan inangnya. Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah mengetahui aktivitas antibakteri terhadap S. aures E. coli dan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) aktivitas antijamur terhadap Candida albicans. Penelitian dilakukan secara laboratoris dan terdiri dari tujuh tahapan yaitu (1) Peremajaan jamur endofit daun sukun (2) Kultivasi dan ekstraksi jamur endofit daun sukun (3) Pengujian fitokimia (4) Pengujian antimikroba (5) Analisis data. Hasil penelitian ditemukan bahwa isolat Mucor (JDSUM6) berubah menjadi Penicillium. Ekstrak etil asetat jamur endofit Cladosprosium Penicillium Beauveria Aspergillus dan Absidia dari daun sukun tersebut mengandung senyawa alkaloid dan terpenoid tetapi tidak mengandung senyawa steroid seperti yang telah dilaporkan sebelumnya. Tidak semua isolat mengandung senyawa flavonoid dan fenolik. Ekstrak kasar kelima jamur endofit daun sukun tersebut memiliki potensi yang lebih rendah sebagai antibakteri terhadap S. aures E. coli dan MRSA daripada Kloramfenikol dan sebagai antijamur terhadap C. albicans daripada Nystatin. Analisis data dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan daya hambat antar ekstrak etil asetat JDSUM memiliki nilai p-value lt 0 05 yang artinya berbeda secara signifiikan. Uji lanjut Mann-Whitney juga menujukkan nilai p-value lt 0.05 yang artinya berbeda secara siginifikan antar ekstrak etil asetat JDSUM.