Disertasi
Manajemen risiko perguruan tinggi negeri badan hukum berbasis pengawasan internal dalam mewujudkan world class university / Hasan Argadinata
Abstrak
Pencapaian status World Class University (WCU) merupakan tantangan strategis bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Indonesia khususnya Universitas Airlangga (UNAIR) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan IPB University. Transformasi menuju WCU membutuhkan pengelolaan risiko yang sistematis berbasis pengawasan internal agar perguruan tinggi mampu beradaptasi dengan persaingan global menjaga keberlanjutan mutu serta memperkuat daya saing internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan teori substantif manajemen risiko PTN-BH berbasis pengawasan internal dalam mewujudkan WCU. Fokus penelitian diarahkan pada empat aspek utama yaitu (1) identifikasi risiko (2) analisis risiko (3) evaluasi risiko dan (4) capaian kriteria pokok WCU meliputi Academic Research Employability dan International (AREI). Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan dominasi kualitatif (concurrent Embedded) yang diperkuat data kuantitatif melalui studi multi-kasus pada tiga PTN-BH UNAIR UGM dan IPB University. Desain penelitian bersifat eksploratif-deskriptif dengan informan kunci yang dipilih secara purposive meliputi kepala bagian penjaminan mutu kepala satuan pengawasan internal kepala kantor manajemen risiko dan staf strategis terkait. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik triangulasi yaitu wawancara mendalam (sebanyak 18 sesi) observasi partisipatif di lapangan telaah 46 dokumen kebijakan dan mutu serta penyebaran kuesioner kepada 56 responden. Analisis data kualitatif dilakukan secara tematik menggunakan NVivo dan MAXQDA sedangkan data kuantitatif dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh skor capaian indikator utama. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber teknik dan waktu serta validasi pakar menggunakan metode Delphi tiga putaran dengan hasil akhir dipresentasikan dalam narasi tematik matriks komparatif dan grafik visual capaian indikator AREI pada masing-masing universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil risiko tiga PTN-BH berbeda namun saling menegaskan peran kunci pengawasan internal sebagai katalis integrasi manajemen risiko menuju WCU pada tahap identifikasi UNAIR menampakkan intensitas risiko akademik tertinggi (publikasi internasional dosen bereputasi kolaborasi riset 4 0) sementara risiko manajerial reputasi berada di level moderat ( asymp 3 2 ndash 3 6) sehingga mengindikasikan celah antara keunggulan akademik dan penguatan tata kelola UGM menempatkan risiko keuangan sebagai domain paling kritis (pendanaan dana riset eksternal pengelolaan anggaran 4 0) dengan tekanan reputasi global tinggi ( asymp 3 9) IPB menonjol pada risiko akademik ndash operasional ( asymp 3 3 ndash 3 8) dan membutuhkan penguatan budaya sadar risiko serta mitigasi risiko digital. Analisis risiko mengonfirmasi pola tersebut UNAIR (akademik 3 5 reputasi 4 0 manajerial/operasional 2 5) UGM (akademik 3 5 reputasi 3 5 operasional 2 5) IPB (akademik 3 0 reputasi 2 5 manajerial/operasional 2 5). Evaluasi risiko menetapkan urgensi penanganan tertinggi di UNAIR (urgensi 5 dampak 4 sumber daya 3) tinggi di UGM (urgensi 4 dampak 4 toleransi 3) dan signifikan di IPB (urgensi 4 sumber daya 3) dengan indikasi overestimation awal pada beberapa domain. Kinerja AREI menempatkan UGM tertinggi (rata-rata 94 32% A 96 64 R 97 04 E 98 67 I 85 71) disusul UNAIR (82 73% A 90 64 R 90 74 E 90 00 I 67 54) dan IPB (73 03% A 80 67 R 78 19 E 80 67 I 76 67) implikasinya UGM perlu akselerasi internasionalisasi UNAIR perlu penguatan tata kelola dan jejaring global sedangkan IPB memerlukan konsolidasi menyeluruh terutama riset dengan pengawasan internal adaptif berbasis data untuk menutup kesenjangan AREI secara berkelanjutan. Pembahasan penelitian ini menegaskan bahwa pencapaian WCU pada PTN-BH (UNAIR UGM IPB) sangat ditentukan oleh integrasi manajemen risiko (ISO 31000) dan pengawasan internal yang tertanam dalam perencanaan dan penganggaran berbasis risiko identifikasi menunjukkan fokus risiko berbeda UNAIR dominan akademik reputasi UGM kritis pada keuangan reputasi IPB pada operasional eksternal analisis menempatkan reputasi dan akademik sebagai prioritas mitigasi (probabilitas dan dampak tertinggi) dengan kebutuhan penguatan grant management kolaborasi riset kurikulum dan literasi digital evaluasi menegaskan urgensi penanganan tinggi (UNAIR paling mendesak) serta perlunya alokasi sumber daya yang terarah sistem informasi risiko terintegrasi dan risk-based internal audit keluaran kinerja AREI memposisikan UGM tertinggi dan stabil UNAIR kuat di akademik riset namun lemah internasionalisasi sementara IPB perlu konsolidasi menyeluruh terutama riset dan employability. Implikasinya tiga kampus wajib memperkuat budaya sadar risiko kepemimpinan lintas unit (SPI MR SPMI) dan digitalisasi pengawasan untuk menutup celah AREI secara berkelanjutan sekaligus mengakselerasi jejaring global serta kemitraan industri guna meningkatkan dampak riset dan serapan lulusan. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa setiap PTN-BH telah mengembangkan sistem manajemen risiko dan pengawasan internal yang relevan tetapi efektivitas implementasinya sangat dipengaruhi oleh budaya sadar risiko inovasi lintas unit dan keberanian beradaptasi dengan perubahan. Disertasi ini merekomendasikan agar universitas mengoptimalkan sistem pengawasan internal yang adaptif mengakselerasi digitalisasi monitoring evaluasi mutu serta mengembangkan strategi inovatif berbasis data dan karakter institusi. Disarankan PTN-BH khususnya UNAIR UGM dan IPB memperkuat integrasi manajemen risiko pengawasan internal yang adaptif berbasis data dan ditopang kolaborasi internasional guna meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko. Temuan ini menjadi rujukan bagi pimpinan dan SPI untuk merumuskan kebijakan risk-based audit dan penguatan SDM sekaligus dasar kebijakan nasional untuk standardisasi peningkatan kompetensi dan percepatan digitalisasi pengawasan internal menuju WCU riset lanjutan diharapkan mengembangkan model inovatif serta menguji pengaruh budaya organisasi dan kolaborasi lintas disiplin.