Tesis
Pengaruh pembelajaran sains terintegrasi berbasis pengalaman (experiential learning) terhadap keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal siswa pada materi suhu dan kalor / Dinda Indrianingrum
Abstrak
Indrianingrum Dinda. 2025. Pengaruh Pembelajaran Sains Terintegrasi Berbasis Pengalaman (Experiential Learning) terhadap Keterampilan Proses Sains dan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Siswa pada Materi Suhu dan Kalor. Tesis. Prodi Magister Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Lia Yuliati M.Pd. (2) Dr. Nasikhudin S.Pd. M.Sc Kata Kunci Pembelajaran Sains Terintegrasi Experiential Learning Keterampilan Proses Sains Kemampuan Komunikasi Interpersonal Suhu dan Kalor Dunia pendidikan sangat memperhatikan kebutuhan untuk mengembangkan dan mengkaji keterampilan abad ke-21 karena keterampilan ini merupakan mata rantai pertama dalam rantai perolehan keterampilan yang mempersiapkan masa depan sumber daya manusia. Pendidikan adalah proses meningkatkan kualitas hidup serta memperoleh dan menanamkan keterampilan dilakukan oleh siswa. Salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran sains adalah keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal. Ditambah dengan konsep suhu dan kalor yang abstrak membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep ini secara mendalam sehingga menyebabkan hasil pembelajaran siswa tergolong rendah dalam materi ini. Selama ini didalam pembelajaran keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal masih tergolong rendah berdasarkan beberapa penelitian terdahulu. Pembelajaran sains terintegrasi dengan berbasis pengalaman (Experiential Learning) dianggap efektif dalam menangani rendahnya keterampilan tersebut karena dengan pembelajaran berbasis pengalaman siswa akan menemukan sendiri konsep belajarnya dan lebih memahami sains secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran sains terintegrasi berbasis pengalaman terhadap keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal siswa pada materi suhu dan kalor. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian campuran dengan desain sekuensial eksplanatori. Rancangan penelitian terbagi menjadi dua fase yakni fase kuantitatif dan fase kualitatif. Fase kuantitatif dilakukan pengukuran untuk menentukan seberapa besar pengaruh pembelajaran sains terintegrasi berbasis pengalaman terhadap keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal. Selanjutnya fase kualitatif dilakukan atas hasil analisis kuantitatif untuk memperoleh pembahasan secara mendalam mengenai pengaruh pembelajaran sains terintegrasi berbasis pengalaman. Pada fase kuantitatif dilakukan metode observasi (non tes) untuk mengukur keterampilan proses siswa dan metode kuesioner/angket untuk mengukur kemampuan komunikasi interpersonal siswa. Selanjutnya di fase kualitatif dilakukan wawancara secara terstruktur berdasarkan pengaruh tiap indikator keterampilan proses sains dan kemampuan komunikasi interpersonal. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang yang terdiri dari 33 siswa kelas kontrol dan 33 siswa kelas eksperimen. Pembelajaran sains terintegrasi berbasis pengalaman (Experiential Learning) terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains (KPS) siswa terutama pada indikator mengklasifikasi bereksperimen menginterpretasikan data dan menyimpulkan. Data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan mengklasifikasi bereksperimen menginterpretasikan data dan menyimpulkan sementara wawancara mengungkapkan bahwa siswa lebih sadar akan peran mengamati eksperimen dan perhitungan dalam pembelajaran. Meskipun demikian keterampilan mendefinisikan operasional mengalami peningkatan paling rendah. Integrasi kedua temuan ini mengindikasikan bahwa tahapan concrete experience dan active experimentation dalam experiential learning efektif untuk mengembangkan keterampilan praktis tetapi tahap reflective observation dan abstract conceptualization perlu diperkuat agar semua indikator KPS dapat meningkat secara merata. Pembelajaran berbasis pengalaman (Experiential Learning) terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal (KKI) siswa terutama pada aspek empati dan dukungan. Data kuantitatif menunjukkan perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol pada aspek tersebut sementara hasil wawancara menegaskan bahwa keterbukaan empati dan dukungan berkontribusi dalam peningkatan KKI. Aspek keterbukaan dan kesetaraan mengalami peningkatan terkecil kemungkinan dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan sosial. Siswa yang merasa kurang didukung atau tidak setara dengan teman-temannya cenderung memiliki kesulitan dalam komunikasi. Meskipun demikian pembelajaran berbasis pengalaman tetap mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan mendorong interaksi sosial yang positif. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif menegaskan bahwa experiential learning tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep sains tetapi juga memperkuat keterampilan komunikasi interpersonal yang mendukung pembelajaran kolaboratif.