Disertasi
Metacognitive misdirection mahasiswa calon guru matematika dalam pemecahan masalah matematika / Siti Mawaddah
Abstrak
Pemecahan masalah menjadi aspek esensial yang perlu menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran matematika. Pemecahan masalah berkaitan erat dengan metakognisi. Proses metakognisi tidak selalu berjalan sempurna terkadang juga terjadi kegagalan yang dapat dikenali melalui cara individu merespon suatu red flag. Red flag berfungsi sebagai tanda peringatan untuk berhenti sejenak atau kembali meninjau langkah dan segera mengambil tindakan yang tepat terhadap potensi kegagalan dalam pemecahan masalah. Salah satu jenis kegagalan metakognif adalah metacognitive misdirection. Metacognitive misdirection terjadi ketika suatu red flag dikenali kemudian red flag tersebut mendapatkan respon yang sesuai namun tidak mendukung pemecahan masalah yang diharapkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diketahui bahwa terdapat variasi proses terjadinya metacognitive misdirection yang dialami oleh mahasiswa calon guru matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses metacognitive misdirection yang dialami mahasiswa calon guru matematika dalam pemecahan masalah matematika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian dipilih dari 63 mahasiswa calon guru matematika di Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lambung Mangkurat dan dipilih berdasarkan kriteria dapat menyelesaikan Tes Pemecahan Masalah Matematika (TPMM) dengan langkah pemecahan masalah Polya (tahap memahami masalah merencanakan melaksanakan dan memeriksa kembali) menghasilkan jawaban yang tidak tepat atau salah bersedia menjadi sumber informasi dan terindikasi mengalami metacognitive misdirection. Berdasarkan kriteria tersebut terpilih 3 orang mahasiswa sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data menggunakan tes dengan teknik think-aloud dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses metacognitive misdirection pada tahap memahami masalah terjadi ketika subjek memahami informasi tidak sesuai dengan konteks masalah yang diberikan. Redflag yang terjadi pada tahap ini adalah red flag error detection dimana redflag ini ditanggapi dengan respon yang sesuai namun tidak mendukung pemecahan masalah. Pada tahapan melaksanakan rencana pemecahan masalah proses metacognitive misdirection terjadi ketika subjek menjalankan rencana yang telah disusun berdasarkan pemahaman informasi yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan konteks masalah yang diberikan dan subjek menyadari adanya kesulitan kesalahan ataupun keganjilan dalam prosesnya namun respon yang diberikan tidak mendukung dalam pemecahan masalah. Redflag yang terjadi pada tahap ini adalah red flag error detection lack of progress dan anomalous results. Pada tahapan memeriksa kembali proses metacognitive misdirection yang dialami subjek terjadi ketika subjek meragukan kesimpulan yang telah disusunnya dan memberikan respon yang sesuai namun tidak mendukung pemecahan masalah yang diharapkan. Redflag yang terjadi pada tahap ini adalah red flag error detection. Dengan demikian red flag error detection merupakan jenis red flag yang mendominasi ketika metacognitive misdirection terjadi. Berdasarkan prosesnya terdapat dua tipe metacognitve misdirection yaitu metacognitive misdirection semu dan metacognitive misdirection esensial. Metacognitive misdirection semu merupakan tipe proses metacognitive misdirection yang terjadi dan diawali dengan adanya pemahaman informasi yang sesuai dengan konteks masalah yang diberikan kemudian direkonstruksi sesuai tujuan masalah yang diharapkan namun karena kesalahan kecil (misal ketidaktelitian) sehingga menghasilkan jawaban yang tidak tepat. Sementara metacognitive misdirection esensial merupakan tipe proses metacognitive misdirection yang terjadi dan diawali dengan adanya pemahaman informasi yang tidak sesuai dengan konteks masalah yang diberikan kemudian direkonstruksi dengan runtut namun menghasilkan jawaban yang salah.