Tesis
Berpikir matematis siswa yang mengalami kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita matematika dan scaffoldingnya / Meira Indria Pratiwi
Abstrak
Soal cerita matematika memiliki peranan penting dalam pembelajaran karena mengaitkan konsep matematika dengan situasi kontekstual. Namun berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di MTs Qita Malang masih ditemukan siswa yang melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal cerita matematika. Kajian mengenai berpikir matematis yang merujuk pada Mason ( 2010) memungkinkan kita untuk mengidentifikasi letak kesalahan yang dilakukan siswa dalam proses penyelesaian. Untuk membantu siswa mengoptimalkan proses berpikir matematisnya diperlukan bantuan yang tepat salah satunya melalui scaffolding yang merujuk pada Anghileri J (2006). Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika serta mendeskripsikan scaffolding yang dilakukan kepada siswa yang melakukan kesalahan. Jenis penelitian ini yakni kualitatif deskriptif. Intrumen penelitian yang digunakan yakni tes pedoman wawancara dan pedoman scaffolding. Penelitian dilakukan dengan memberikan tes kepada 15 siswa kelas IX MTs Qita Malang yang kemudian dipilih 3 subjek berdasarkan tiga kategori yakni kemampuan tinggi sedang dan rendah. Data penelitian berupa hasil tes hasil wawancara scaffolding dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini meliputi reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yakni siswa berkemampuan tinggi tidak melakukan kesalahan pada fase entry dan attack. Akan tetapi melakukan kesalahan pada fase review khususnya pada aspek check karena tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadap solusi yang diperoleh. Selain itu pada aspek extend siswa tidak memiliki alternatif penyelesaian lain. Untuk mengatasi hal ini scaffoldingnya berupa reviewing. Siswa berkemampuan sedang tidak melakukan kesalahan pada fase entry. Akan tetapi menunjukkan kesalahan pada fase attack yakni pada aspek maybe karena tidak dapat melanjutkan langkah penyelesaian dan aspek why karena tidak mampu menjelaskan alasan logis dari langkah yang diambil. Kesalahan juga terjadi pada fase review meliputi aspek check karena tidak melakukan pemeriksaan ulang dan aspek extend karena tidak memiliki strategi penyelesaian lain. Scaffolding mencakup explaining dan reviewing. Siswa berkemampuan rendah melakukan kesalahan sejak fase entry tepatnya pada aspek introduce karena tidak mampu menyimbolkan informasi dari soal. Kesalahan berlanjut pada fase attack meliputi aspek maybe karena tidak menuntaskan dugaan awal dan aspek why karena tidak mampu menjelaskan alasan logis dari proses penyelesaian. Selain itu juga melakukan kesalahan pada fase review aspek check karena tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadap solusi serta aspek extand karena tidak memiliki cara penyelesaian lain. Scaffolding mencakup restructuring explaining developing conceptual thinking dan reviewing.