Disertasi
Hasrat mimetik dalam kitab kejadian sebagai fondasi filosofis bagi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia / Yohanes Orong
Abstrak
RINGKASAN Yohanes Orong 2025. Hasrat Mimetik dalam Kitab Kejadian sebagai Fondasi Filosofis bagi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Disertasi Program Studi S3 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Pembimbing (1) Prof. Dr. Djoko Saryono M. Pd. (2) Prof. Dr. Roekhan M.Pd. Kata kunci hasrat hasrat mimetik mimesis anti-mimetik Kitab Kejadian pendidikan fondasi filosofis bahasa dan sastra Indonesia Kitab Kejadian dibaca dalam kerangka antropologis tidak sekadar menuturkan asal-usul umat manusia tetapi mengartikulasikan pola naratif yang memperlihatkan dinamika hasrat mimetik dalam relasi manusia antara saudara orangtua dan anak pasangan suami-istri bahkan manusia dan Yang Ilahi. Narasi-narasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak terutama lahir dari musuh eksternal tetapi dari figur-figur terdekat yang sekaligus menjadi model hasrat. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkapkan secara sistematis hasrat mimetik dalam Kitab Kejadian dan merumuskan filsafat yang mendasarinya. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan metode hermeneutika fenomenologis-alkitabiah Paul Ricoeur. Analisis berfokus pada dua tahap pemahaman reflektif (filosofis) dan eksistensial. Analisis bertujuan untuk menyingkapkan dinamika hasrat mimetik dalam teks Kitab Kejadian sebagai sumber data dengan membuka lapisan makna objektif teks yang melampaui konteks historis awal teks tersebut. Melalui pendekatan ini makna objektif teks dan ruang bagi pertanyaan eksistensial serta cakrawala baru yang ditawarkan teks bagi pembaca kontemporer tersingkap. Dari hasil penelitian ini diidentifikasi enam realitas tekstual mengenai hasrat mimetik dalam Kitab Kejadian. Pertama hasrat manusia bersifat mimetik lahir dari peniruan terhadap sesama dan ketika diarahkan kepada objek yang sama memicu konflik serta mekanisme kambing hitam. Namun Kitab Kejadian juga mendekonstruksi pola kekerasan ini melalui kehadiran Allah sebagai agen perdamaian. Kedua identitas manusia terbentuk dalam relasi mimetik timbal balik bahkan terbalik serta dapat ditransformasi melalui mimesis iman yang membuka kemungkinan etis dan komunitas yang damai. Ketiga struktur identitas dalam kitab ini dibentuk melalui luka dan identifikasi tidak sadar yang diwariskan secara psikis khususnya dalam dinamika favoritisme dan trauma keluarga tetapi juga terbuka untuk makna baru sebagaimana tampak dalam kisah Yusuf. Keempat cinta ambigu dari orangtua membentuk subjek melalui pesan-pesan enigmatis yang coba disimbolkan oleh anak melalui penyamaran dan mimpi. Kelima kisah-kisah seperti Hagar dan Yusuf menunjukkan bahwa hasrat dan identitas selalu bergerak dalam medan kekuasaan kolonial dan patriarkal. Mimesis dapat menimbulkan keterasingan tetapi juga membuka ruang resistensi dan pembentukan identitas hibrid. Keenam tokoh-tokoh seperti Nuh Abraham Tamar Melkisedek dan Yusuf memperlihatkan bentuk hasrat anti-mimetik yakni sebuah orientasi batiniah yang tidak tunduk pada tekanan sosial melainkan berpijak pada panggilan ilahi sehingga membuka jalan menuju kehidupan etis dan spiritual. Dari keenam realitas tersebut kemudian dirumuskan empat temuan konseptual utama penelitian. Pertama Kitab Kejadian menyajikan struktur kompleks mengenai hasrat identitas dan konflik manusia yang hanya dapat diungkap melalui pendekatan multidisipliner yang menggabungkan teori mimetik psikoanalisis dan pemikiran poskolonial. Kedua hasrat manusia bersifat relasional dan kompetitif tetapi dapat ditransendensikan melalui tindakan etis dan intervensi ilahi. Ketiga penelitian ini mengajukan konsep orisinal ldquo hasrat anti-mimetik rdquo sebagai kekuatan yang memutus rantai kekerasan dan membuka jalan rekonsiliasi. Keempat lebih dari sekadar teks keagamaan Kitab Kejadian dipahami sebagai sumber antropologis dan etis tentang pembentukan subjek trauma kolektif dan pembebasan spiritual yang relevan untuk menghadapi krisis global terkait hasrat dan identitas. Berdasarkan seluruh temuan dirumuskan satu wawasan filosofis sebagai jawaban atas tujuan penelitian yaitu bahwa filsafat hasrat mimetik dalam Kitab Kejadian berpijak pada pandangan bahwa hasrat manusia bersifat relasional dan dimediasi oleh yang lain dan secara inheren rentan terhadap konflik dan kekerasan. Namun Kitab Kejadian juga menawarkan jalan keluar melalui figur-figur yang mengarahkan hasrat mereka bukan kepada validasi sosial melainkan kepada Yang Ilahi. Hasrat anti-mimetik menjadi prinsip liberatif menolak imitasi destruktif demi membangun komunitas yang berlandaskan kasih integritas dan rekonsiliasi. Dengan demikian kitab ini menyajikan sebuah filsafat eksistensial yang menuntun manusia melewati luka dan konflik menuju kehidupan yang ditransformasikan oleh relasi yang diperbarui baik dengan sesama maupun dengan Yang Ilahi. Dalam kerangka ini wawasan Girard tentang sastra sebagai teori menjadi relevan bahwa lebih dari sekadar objek interpretasi teologis atau alat untuk menyampaikan doktrin Kitab Kejadian adalah laboratorium pemikiran yang secara imajinatif dan intuitif mengungkapkan struktur dasar perilaku manusia. Kitab ini merupakan laboratorium antropologis yang memperlihatkan dinamika relasi imitasi konflik dan rekonsiliasi dengan kekayaan dramatik dan kedalaman eksistensial yang tidak tertandingi. Maka pembacaan Kitab Kejadian sebagai teks filosofis dan antropologis tidak hanya sah tetapi juga diperlukan sebab ia menyediakan perangkat analitis dari dalam teks itu sendiri untuk memahami subjek identitas dan konflik secara kritis. Tambahan penting dari penelitian ini adalah artikulasi hasrat mimetik sebagai fondasi filosofis bagi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Jika belajar bahasa pada hakikatnya merupakan proses imitasi simbol-simbol linguistik dan apresiasi sastra adalah proses identifikasi serta internalisasi nilai melalui teks maka pendidikan bahasa dan sastra berakar pada mekanisme mimetik. Kesadaran ini membuka implikasi pedagogis guru sebagai model mimetik siswa sebagai subjek peniruan yang kreatif serta kelas sebagai ruang pengelolaan rivalitas menuju kolaborasi. Dengan demikian penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada hermeneutika Kitab Kejadian dan wacana filosofis tentang hasrat manusia tetapi juga memperkaya teori dan praktik pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dengan fondasi konseptual yang reflektif kritis dan etis.