Tesis
Peran siswa SMP dalam diskusi kelompok untuk menyelesaikan masalah Fermi berdasarkan gender / Wayan Indi Haidar Mufidah
Abstrak
Diskusi kelompok dalam pembelajaran matematika berperan penting dalam membangun pemahaman konsep berpikir kritis dan menyelesaikan masalah terbuka seperti masalah Fermi. Masalah Fermi dalam pembelajaran matematika seringkali berkaitan dengan geometri. Masalah Fermi menuntut siswa untuk membuat estimasi asumsi dan model berdasarkan informasi tidak lengkap. Selama proses penyelesaian masalah Fermi interaksi antar siswa sangat penting. Salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan interaksi tersebut adalah diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok siswa berinteraksi dan membangun solusi bersama namun tidak semua siswa mengambil peran yang sama. Teori pemosisian (positioning theory) memungkinkan analisis terhadap bagaimana peran-peran tersebut terbentuk dan berubah selama interaksi seperti peran ahli fasilitator maupun pemula. Faktor gender juga diketahui mempengaruhi gaya komunikasi partisipasi dan kecenderungan peran siswa dalam diskusi matematika. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran siswa SMP dalam diskusi kelompok menyelesaikan masalah Fermi berbasis geometri ditinjau dari gender. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 1 Kediri. Subjek dalam penelitian ini dipilih dari kelas IX-L yang siswanya memiliki kemampuan diatas rata-rata dibandingkan kelas lainnya. Kemudian delapan subjek dipilih secara purposive sampling berdasarkan saran dari guru dan kemampuan komunikasi siswa. Subjek dibagi menjadi dua kelompok masing-masing anggota kelompok terdiri dari dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Instrumen penelitian meliputi soal masalah Fermi berbasis geometri pedoman negosisasi pedoman pemosisian pedoman wawancara dan alat perekam untuk mendokumentasikan seluruh proses diskusi sehingga data interaksi siswa dapat dianalisis secara lebih rinci. Proses diskusi direkam ditranskrip menggunakan pedoman negosiasi dan pedoman pemosisian kemudian dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki cenderung mempertahankan satu peran secara konsisten sepanjang proses penyelesaian masalah Fermi sedangkan siswa perempuan menunjukkan peran yang lebih dinamis dengan berpindah antara peran pemula fasilitator dan ahli. Sehingga interaksi dalam kelompok menjadi lebih beragam dan mendorong terjadinya pertukaran ide yang beragam untuk mendukung penyelesaian masalah Fermi secara kolaboratif. Siswa laki-laki cenderung menempati posisi dominan sebagai ahli dengan mengarahkan jalannya diskusi mengusulkan strategi membuat model dan memberikan estimasi. Namun siswa laki-laki yang berperan sebagai ahli kurang teliti dalam proses pengerjaan soal sehingga berpotensi menghasilkan kesalahan pada strategi model maupun estimasi yang diajukan. Sedangkan siswa perempuan ketika mengambil peran sebagai ahli lebih menempatkan dirinya sebagai ahli pendukung dengan memperkuat argument kelompok dan menunjukkan ketelitian dalam mengevaluasi strategi yang digunakan model matematika yang dikembangkan dan estimasi yang diajukan oleh anggota kelompok lainnya. Selain peran sebagai ahli peran fasilitator tidak memperlihatkan kecenderungan yang berbeda berdasarkan gender. Siswa laki-laki dan perempuan ketika berperan sebagai fasilitator sama-sama menunjukkan inisatif dalam melakukan tindakan tanpa diminta siswa lain dan memfasilitasi kebutuhan kelompok selama berdiskusi. Siswa laki-laki yang berperan sebagai pemula tidak menunjukkan keterlibatan aktif sepanjang tahapan penyelesaian masalah Fermi. Selama proses diskusi berlangsung siswa laki-laki pemula lebih sering diam tidak melakukan tindakan apapun dan menyatakan tidak memahami informasi. Sebaliknya siswa perempuan yang berperan sebagai pemula lebih menunjukkan usaha untuk memahami informasi dengan aktif mengajukan pertanyaan dan memberikan respon terhadap diskusi kelompok. Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat dipertimbangkan adalah (1) guru dapat merancang intervensi yang mendorong partisipasi aktif siswa laki-laki yang berperan sebagai pemula seperti memberikan pertanyaan pemicu dan menugaskan tanggung jawab kecil yang relevan dan (2) guru dapat membiasakan siswa laki-laki yang berperan sebagai ahli melakukan analisis perbandingan solusi memeriksa kembali langkah-langkah penyelesaian dan melakukan verifikasi silang antar angggota untuk memastikan ketepatan strategi model maupun estimasi yang digunakan.