Tesis
Kemampuan berpikir kritis siswa SMP dalam menyelesaikan masalah geometri / Monika Retno Wulandari
Abstrak
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa sebagai bekal untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan masalah di lingkungannya. Dalam pendidikan pembelajaran matematika merupakan salah satu pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir kritis. Meski demikian kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. Hal ini disebabkan karena siswa mengalami kesulitan dalam memahami masalah yang diberikan. Geometri menempati posisi penting dalam pembelajaran matematika maupun kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan indikator berpikir kritis siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan subjek enam siswa kelas VIII yang dipilih melalui purposive sampling masing-masing dua siswa dengan kategori kemampuan matematika tinggi sedang dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes dan wawancara berbasis indikator kemampuan berpikir kritis menurut Facione (interpretasi analisis evaluasi dan inferensi). Instrumen penelitian tersebut divalidasi oleh dosen atau tim validator. Data penelitian dianalisis menggunakan tahapan-tahapan analisis data kualitatif yaitu reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa SMP dalam menyelesaikan masalah geometri menunjukkan variasi yang signifikan berdasarkan tingkat kemampuan matematis siswa. Indikator interpretasi merupakan indikator yang paling mudah dicapai oleh seluruh kategori siswa (tinggi sedang dan rendah). Indikator analisis hanya mampu dilakukan oleh siswa berkemampuan tinggi sedangkan siswa kemampuan sedang dan rendah hanya melakukan analisis sebagian yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman siswa dalam materi. Indikator evaluasi dapat dicapai oleh siswa berkemampuan tinggi meskipun terkadang siswa masih kurang teliti sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah hampir tidak melakukan evaluasi dikarenakan siswa juga ragu dengan jawaban yang telah ditulisanya. Indikator inferensi hanya tercapai oleh siswa berkemampuan tinggi. Hal ini dapat diartikan bahwa jika suatu indikator tidak terpenuhi maka indikator selanjutnya juga tidak akan tercapai. Dengan demikian untuk berpikir kritis siswa perlu menguasai konsep matematika serta mampu melakukan evaluasi agar kesimpulan dari pekerjaannya memiliki alasan yang logis.