Tugas Akhir
Profil guru dalam membelajarkan konsep pecahan siswa kelas III SDN Bandungrejosari I Kota Malang tahun ajaran 2006/2007 / Nur Azizah
Abstrak
Tugas Akhir ini mendeskripsikan tentang profil guru dalam membelajarkan konsep pecahan. Tujuan penulisan ini mendeskripsikan proses guru dalam membelajarkan konsep pecahan di kelas III SDN Bandungrejosari I.Observasi dalam pembelajaran konsep pecahan di kelas III SDN Bandungrejosari I tentang semua kejadian selama berlangsungnya proses belajar mengajar baik dari pihak guru ataupun siswa. Sasaran penulisan dalam Tugas Akhir ini adalah guru kelas III Semester II SDN Bandungrejosari I tahun ajaran 2006/2007. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Teknik analisis yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif Hasil penulisan yang diperoleh yaitu 1) pihak guru dalam kegiatan belajar mengajar antara lain Guru menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum 2006 (KTSP) dan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam pembelajaran pecahan guru hanya menggunakan media gambar dan tidak menggunakan benda-benda konkret. 2) pihak siswa dalam kegiatan belajar mengajar antara lain siswa menyebutkan nilai pecahan nama pecahan menuliskan dan membacakan lambang pecahan yang ditunjukkan oleh gambar yang diarsir siswa membagi dan mengarsir bangun datar beraturan sesuai dengan nilai pecahan yang sudah ditentukan. 3) Kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung antara lain guru menjelaskan atau mengenalkan pecahan dengan gambar bangun datar beraturan yang diarsir siswa mengerjakan LKS dan hasilnya memuaskan suasana kelas agak gaduh pada saat siswa mengerjakan evaluasi. Berdasarkan pengamatan ditemukan bahwa dalam pembelajaran matematika tentang pecahan guru hanya menggunakan media gambar hal ini bertentangan dengan teori Piaget dan Bruner. Teori Piaget bahwa taraf berfikir anak SD adalah konkret operasional dan teori Bruner siswa belajar melalui 3 tahap yaitu enaktif ekonik dan simbolik. Selanjutnya guru lebih banyak menggunakan pengetahuan prosedural daripada konseptual akibatnya siswa belum bisa memahami konsep pecahan secara optimal. Kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan ini adalah (1) pembelajaran tentang konsep pecahan di SDN Bandungrejosari I kurang efektif karena hanya menggunakan media gambar (2) pembelajaran hanya mengacu pada pengetahuan prosedural saja.Berdasarkan kesimpulan diatas penulis menyarankan agar guru menggunakan benda-benda nyata (konkret) dalam pembelajaran matematika untuk usia SD dan guru mengembangkan pengetahuan konseptual dan prosedural secara seimbang.