Tugas Akhir
Menemukan kesalahan guru dalam menerapkan konsep kedisiplinan pada siswa Sekolah Dasar / Lutvi Awan Amin
Abstrak
Disiplin adalah cara masyarakat mengajar anak tentang perilaku moral yang disetujui oleh kelompok sosial. Perilaku moral yang telah dipelajari oleh anak tersebut akan mengarahkan kehidupannya agar dapat bermanfaat bagi dirinya maupun masyarakat sosialnya serta dapat menimbulkan perasaan bahagia dan sejahtera. Orang yang mangajarkan disiplin berarti telah menumbuhkan dan mengembangkan pengertian-pengertian yang memang berasal dari luar pribadi anak sebagai proses untuk melatih dan mengajarkan tingkah laku serta bersikap sesuai tata krama yang ada dalam lingkungan sosial. Keyakinan masyarakat bahwa anak-anak khususnya siswa sekolah dasar sangat memerlukan disiplin sudah ada sejak dulu. Pada masa lampau disiplin dianggap perlu untuk menjamin bahwa anak akan menganut standar yang ditetapkan masyarakat yang harus dipatuhi agar ia tidak ditolak oleh lingkungan sosialnya. Akan tetapi saat ini anggapan tersebut sudah berubah sekarang masyarakat sudah dapat menerima bahwa anak membutuhkan disiplin karena ada keinginan untuk bahagia dan menjadi orang yang baik penyesuaiannya terhadap lingkungan sosial. (Elizabeth B. Hurlock. 1978). Didalam pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui dan menemukan beberapa kesalahan tindakan guru dalam menerapkan kedisiplinan yang tidak sesuai dengan arti dan makna disiplin itu sendiri khususnya pada penerapan disiplin untuk siswa sekolah dasar. Subyek dalam pengamatan ini adalah guru kelas yang mengajar di SDN Tanjungrejo 2 Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang. Sedangkan obyek penerapannya adalah siswa di sekolah tersebut. Pengamatan dan pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 16 April sampai 12 Mei 2007. Berdasarkan data yang diperoleh masih ada guru yang menerapkan disiplin dengan cara otoriter. Hal itu terbukti dengan adanya perilaku guru yang menekan siswa dengan peraturan-peraturan yang terlalu keras sehingga dapat menghambat gerak motoris siswa. Akibatnya siswa tersebut mengalami kendala dalam mengekspresikan keinginannya karena takut akan hukuman yang diberikan akibat melanggar peraturan. Tindakan guru semacam itulah yang disebut guru sebagai penindas gejolak emosi . (Muller-Bek 1958).