Skripsi
Penggunaan cerita fiksi kontemporer anak dalam pembelajaran membaca di kelas V SD Negeri Kotalama V Malang / Maftuhah
Abstrak
Saat ini dapat dijumpai berbagai ragam buku cerita dan kumpulan cerita pendek anak di toko-toko buku. Cerita anak tersebut dapat dijadikan alternatif bacaan sastra pada anak usia 10-12 tahun kelas V SD. Sastra anak tersebut potensial sebagai bahan pembelajaran membaca cerita (apresiasi). Dengan bahasa yang sederhana cerpen-cerpen tersebut dapat dibaca oleh anak-anak. Khazanah sastra tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran membaca sastra di sekolah yang berfungsi sebagai sarana pendidikan moral. Berangkat dari hal tersebut penelitian dengan judul Penggunaan Cerita Fiksi Kontemporer Anak dalam Pembelajaran Membaca di Sekolah Dasar Negeri Kotalama V Malang ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh deskripsi penggunaan cerita fiksi kontemporer anak dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran membaca di kelas V SD Negeri Kotalama V Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan bentuk penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata deskripsi tindakan dan dokumen. Sumber data penelitian ini adalah aktivitas guru dan siswa kelas V-A SD Negeri Kotalama V Malang serta dokumen-dokumen yang berupa RPP kriteria penilaian dan foto. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Instrumen lain berupa ceklis kelengkapan RPP ceklis proses pembelajaran ceklis evaluasi pembelajaran pedoman wawancara untuk guru bidang studi pedoman wawancara untuk siswa dan catatan lapangan. Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui observasi partisipasi pasif wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan CFKA dalam perencanaan tampak pada komponen pelengkap awal dan komponen utama saja. Komponen pelengkap akhir dalam rencana pembelajaran hanya memuat waktu dan identitas perencana. Pada komponen pelengkap awal penggunaan CFKA disebutkan secara rinci dan sistematis dalam standar kompetensi kompetensi dasar dan indikator. Pada komponen utama penggunaan CFKA disebutkan dalam tujuan pembelajaran namun hal itu tidak disebutkan secara sistematis. Dalam materi pembelajaran CFKA digunakan sebagai satu-satunya rujukan materi dan digunakan sebagai media dan sumber belajar utama. Teknik yang paling sering digunakan guru adalah diskusi karena dapat mengaktifkan siswa dan memaksimalkan penggunaan CFKA dalam pembelajaran. CFKA disebutkan secara rinci dalam langkah-langkah pembelajaran dan menjadi fokus dalam kegiatan pendahuluan inti dan penutup. Penggunaan CFKA dalam pelaksanaan pembelajaran membaca tercakup dalam kegiatan pendahuluan inti dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran namun apersepsi yang dilakukan guru tidak terkait dengan pembelajaran membaca CFKA. Kegiatan inti meliputi aktivitas prabaca membaca dan pascabaca. Aktivitas prabaca meliputi kegiatan memprediksi isi CFKA berdasarkan judul cerita. Pada tahap pascabaca siswa mengidentifikasi unsur-unsur pembangun cerita menyimpulkan cerita secara lisan di tempat duduk masing-masing menceritakan kembali isi cerita di depan secara ringkas dan pemberian modelling menceritakan kembali oleh guru. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian tugas rumah dan tugas pengayaan. Tugas rumah berupa membaca kembali cerita yang telah dibagikan dan meringkas cerita secara individu. Tugas pengayaan berupa melaporkan cerita yang dibaca di rumah secara lisan pada setiap pembelajaran Bahasa Indonesia. Selama dua kali pertemuan guru dan siswa tidak melakukan refleksi karena waktu pembelajaran telah berakhir. Penggunaan CFKA dalam penilaian pembelajaran membaca terwujud dalam penilaian proses dan hasil yang mengacu pada rubrik. Rubrik penilaian proses (afektif) meliputi keaktifan kesungguhan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan kriteria untuk penilaian kognitif (meringkas cerita) meliputi kelengkapan isi kesesuaian isi keruntutan dan keorisinalan bahasa. Dari rekap nilai diketahui bahwa dari 30 siswa yang mengikuti pembelajaran membaca cerita anak tidak ada yang harus mengikuti remidi pada aspek kognitif karena dianggap tuntas. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru untuk mengalokasikan waktu pembelajaran dalam RPP dengan tepat agar pelaksanaan pembelajaran bisa berjalan dengan baik memantau siswa selama proses pembelajaran memanfaatkan cerita fiksi kontemporer anak dan memanfaatkan sudut baca yang sudah ada pada tiap-tiap kelas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa di kelas berbeda atau melakukan pengembangan penelitian baik berupa penelitian tindakan kelas eksperimen dan sebagainya.