Skripsi
Pengembangan modul berbasis kontekstual (CTL) pada materi pokok wujud zat untuk pembelajaran IPA SMP/MTs kelas VII / Siti Khalimah
Abstrak
Kemajuan pendidikan merupakan indikator kualitas suatu bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan sistem pendidikan dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan yang dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Untuk kepentingan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional antara lain di bidang kurikulum metode pengajaran dan penyempurnaan sistem penilaian. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang semakin terpuruk dengan fenomena lulusan yang kurang berkualitas pemerintah telah memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP dirancang untuk dapat menghasilkan lulusan yang kompeten yang memiliki pengetahuan ketrampilan sikap dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan pembelajaran. Sesuai dengan standart isi (Permen No. 22 Tahun 2006) yang menjadi acuan penyusunan KTSP pelajaran IPA SMP secara eksplisit mencakup ilmu kimia disamping fisika dan biologi. Penambahan mata pelajaran IPA kimia di SMP ini menuntut diadakannya upaya pengembangan sumber belajar yang sesuai untuk pembelajaran IPA kimia SMP. Salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan adalah modul karena modul merupakan paket belajar mandiri yang menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul pembelajaran IPA kimia SMP kelas VII untuk materi pokok wujud zat dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual (CTL). Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Desain pengembangan diadaptasi dari Dick Carey. Pengembangan modul ini dilakukan melalui beberapa langkah yaitu mengkaji Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengkaji model pembelajaran CTL mengkaji alokasi waktu untuk materi pokok wujud zat mengkaji materi pokok wujud zat mengumpulkan referensi yang berhubungan menyusun modul mengkaji validasi modul menganalisis data melakukan revisi dan memproduksi modul. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan adalah modul IPA kimia SMP kelas VII semester 1 untuk materi pokok wujud zat secara garis besar terdiri dari tiga sub materi pokok. Sub materi pokok pertama membahas tentang sifat-sifat zat padat cair dan gas. Sub materi pokok kedua membahas wujud zat dan teori partikel dan sub materi pokok ketiga membahas perubahan wujud zat. Modul hasil pengembangan terdiri atas komponen cover kata pengantar daftar isi daftar tabel daftar gambar petunjuk untuk guru petunjuk untuk siswa lembar standart kompetensi dan kompetensi dasar peta konsep wujud zat uraian materi wujud zat yang disusun berdasarkan model pembelajaran kontekstual (CTL) daftar istilah daftar pustaka soal evaluasi kunci jawaban umpan balik dan lembar penilaian. Hasil penilaian oleh validator guru IPA SMP/MTs terhadap modul hasil pengembangan diperoleh persentase sebesar 88 8% dan nilai rata-rata sebesar 3 6 dengan kriteria valid (baik layak jelas mudah tepat dan sesuai) sedangkan hasil penilaian oleh validator dosen kimia diperoleh persentase sebesar 84 1% dan nilai rata-rata sebesar 3 4 dengan kriteria valid (baik layak jelas mudah tepat dan sesuai). Berdasarkan hasil penilaian dari para validator tersebut diperoleh hasil validasi modul secara keseluruhan dengan kriteria valid dengan skor 86 4% dan nilai rata-rata 3 5. Beberapa masukan penting dari validator yang diberikan dalam upaya penyempurnaan modul antara lain gambar diperjelas dalam penulisan agar lebih teliti dalam menuliskan satuan sebaiknya menggunakan satuan MKS/cgs dan dalam menggambarkan susunan partikel suatu zat sebaiknya menggunakan satu warna agar tidak salah konsep.Berdasarkan data hasil validasi yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengembangan (modul) telah memenuhi kriteria ditinjau dari hubungan antara kurikulum dan isi modul sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar IPA kimia untuk SMP. Akan tetapi agar hasil pengembangan ini lebih sempurna dan bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran maka perlu dilakukan uji coba lapangan (validasi empirik) terhadap hasil pengembangan ini.