Tesis
Desain pembelajaran untuk proses pendidikan karakter anak (studi fenomenologi pada SD Kanisius Mangunan Yogyakarta) / Kristien Yuliarti
Abstrak
Seiring tingginya tuntutan ekonomi yang makin menyibukkan orangtua dan besarnya arus perubahan nilai di masyarakat peran sekolah untuk turut membangun karakter positif anak didiknya semakin besar. Hal ini tidak mudah karena sekolah pun menghadapi persoalan menyangkut strategi penyelenggaraan pendidikan karakter. Terlebih lagi dengan tanggung jawab sekolah dalam memenuhi target materi sesuai kurikulum formal. Mengatasi persoalan tersebut SD Kanisius Mangunan (SDKM) berupaya untuk mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembelajarannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam dan komprehensif serta mendeskrispsikan desain pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter yang diterapkan SDKM. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Orientasi teoritis yang digunakan bertumpu pada pendekatan studi fenomenologi. Lokasi penelitian ialah SD Kanisius Mangunan yang terletak di dusun Mangunan desa Kalitirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada Juli-Agustus 2006 dan dilanjutkan Maret-Juni 2007. Sumber data dalam penelitian ialah tulisan-tulisan YB. Mangunwijaya dan hasil-hasil penelitian serta dokumentasi tentang SDKM yang sesuai dengan tujuan penelitian anak didik SDKM guru/staf/kepala sekolah SDKM staf DED orangtua anak didik SDKM dan alumni SDKM. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni telaah dokumentasi pengamatan berperanserta wawancara pengisian kuesioner dan pengambilan gambar. Analisis data dilakukan secara induktif dengan prosedur reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk keperluan pengecekan keabsahan data dilakukan perpanjangan keikutsertaan ketekunan pengamatan dan triangulasi (sumber dan metode). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDKM menempatkan pendidikan karakter sebagai visi utama proses pendidikannya. Tujuan proses pendidikan SDKM ialah menumbuhkembangkan watak atau karakter anak didik yang integral yakni pribadi berkemampuan eksploratif dan kreatif dalam relasi yang humanis dan selaras dengan diri sendiri sesama alam sekitar dan Tuhan yang berdasarkan nilai Pancasila. SDKM menggunakan pendekatan tidak langsung dalam proses pendidikan karakter yaitu mengintegrasikannya ke dalam seluruh kegiatan pembelajaran di kelas dan dinamika sekolah. Untuk itu SDKM merancang desain pembelajaran yang meliputi a) penyusunan pengalaman/materi belajar b) penetapan strategi kegiatan belajar di kelas dan c) pengorganisasian program sekolah. Pengalaman/materi belajar yang diberikan pada anak didik disusun dalam Sistem Pembelajaran Terpadu Berbasis Tematis. Penjabaran materinya dituangkan dalam bentuk Jaringan Topik. Strategi kegiatan belajar SDKM meliputi a) interaksi antara guru/staf SDKM dengan anak didik dilakukan dengan prinsip Ajrih Asih b) penciptaan banyak kesempatan bagi anak didik untuk menumbuhkembangkan karakter positif c) merancang mata pelajaran/kegiatan khusus yakni Komunikasi Iman penggunaan lagu sebagai bentuk ungkapan doa sarapan pagi dan makan siang kotak pertanyaan membaca buku bagus hari bebas dan perubahan posisi tempat duduk. Pengorganisasian program SDKM diselaraskan dengan tujuan pendidikan karakter yakni berupa a) keterlibatan orangtua dalam kegiatan sekolah dan b) penetapan kebijakan diterimanya penerimaan anak-anak berkebutuhan khusus dan prinsip kesederhanaan dalam program sekolah. Dampak dari desain pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter yakni a) anak didik memperoleh banyak kesempatan untuk menumbuh-kembangkan perilaku positif sehingga membantu berlangsungnya proses internalisasi karakter tersebut dalam dirinya b) semua guru memiliki peran dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan proses pendidikan karakter. Temuan pokok dari penelitian ini a) sekolah bisa menjadi locus pendidikan karakter b) pendidikan karakter perlu memuat nilai-nilai humanis universalistik serta nilai lokal yaitu nilai yang didasarkan pada konteks masyarakat dan negara yang menjadi lingkungan sekolah agar anak didik mampu menjawab kebutuhan dirinya sendiri dan masyarakat c) sistem pembelajaran terpadu berbasis tematis akan membiasakan anak didik berpikir holistik tidak fragmented dan menemukan nilai-nilai yang ada pada peristiwa di sekitarnya yang saling terkait. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan kepada institusi sekolah untuk lebih memberikan perhatian pada proses pendidikan karakter anak didiknya di samping proses pencerdasan intelektual. Untuk itu disarankan juga kepada pemerintah untuk memberi perhatian serius pada upaya pengembangan kompetensi guru dalam menyusun kurikulum eksperiensial agar guru peka terhadap dinamika realitas sosial yang terjadi di lingkungan sekolah yang kemudian dirumuskan sebagai bagian dari strategi pembelajaran. Sedangkan bagi kalangan akademisi yang menekuni bidang Teknologi Pembelajaran disarankan untuk meningkatkan pengembangan domain desain (soft technology) pada studi Teknologi Pembelajaran. Soft technology lebih penting untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar.