Skripsi
Penerapan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses dan kemampuan kognitif siswa kelas XI-IPA1 SMA Negeri 12 Malang / Nurus Sofa
Abstrak
ABSTRAK Sofa Nurus. 2008. Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Inkuiri untuk Meningkatkan keterampilan Proses dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI-IPA1 SMA Negeri 12 Malang. Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Pudyo Susanto M.Pd (II) Dra. Hj. Nursasi Handayani M.Si Kata Kunci Inkuiri Keterampilan Proses Kemampuan Kognitif Hasil observasi awal tanggal 25 Februari 2008 dan 1 Maret 2008 di SMAN 12 Malang diperoleh informasi bahwa metode pengajaran yang diberikan kepada siswa berupa diskusi presentasi dan ceramah. Hal itu tidak sesuai dengan pembelajaran IPA yang seharusnya siswa mampu membentuk pengetahuan atau konsep sendiri berdasarkan prinsip dan kerja ilmiah. Salah satu cara yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memberikan pendekatan inkuiri kepada siswa. Dimana siswa akan membentuk sendiri pengetahuannya melalui kegiatan praktikum atau percobaan. Penerapan inkuiri ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan proses dan kemampuan kognitif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tiap siklus terdiri dari 4 kegiatan belajar. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas X1-IPA1 semester genap tahun ajaran 2008/2009 SMA Negeri 12 Malang yang siswanya berjumlah 37. Data keterampilan proses diperoleh dari lembar observasi pada siklus 1 dan 2 yang dianalisis untuk mengetahui persentase peningkatannya. Data kemampuan kognitif siswa diperoleh dari hasil post test siklus 1 dan siklus 2 yang dianalisis untuk mengetahui peningkatan nilai rata-rata kelas. Data aktivitas guru diperoleh dari hasil observasi kegiatan guru dan catatan lapangan yang dianalisis untuk mengetahui persentase ketercapaian pendekatan inkuiri pada pada siklus 1dan 2 serta kefektifan percobaan-percobaan dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menjelaskan materi sistem indera yaitu pengamatan model mata dan telinga percobaan terbentuknya bayangan percobaan daya akomodasi lensa percobaan terbentuknya bayangan dengan 2 lensa percobaan Mendengar Bunyi percobaan Kelereng dalam Toples percobaan Air dalam Toples kurang efektif karena terdapat beberapa kendala yaitu kurangnya penguasaan konsep fisika kurangnya pengetahuan guru tentang aplikasi dari beberapa konsep biologi sendiri adanya percobaan yang belum bisa menjelaskan suatu mekanisme secara utuh adanya kemungkinan percobaan lain yang belum diketahui oleh guru. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pelaksanaan inkuiri berjalan dengan baik sesuai dengan tahap-tahap yang diungkapkan oleh Sumarmi (2000 28-29) persentase ketercapaian siklus 1 86% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 91% namun tahap data prosessing dalam inkuiri tidak bisa berjalan dengan baik maka berakibat pada buruknya kemampuan kognitif siswa dan i kemampuan aplikasi siswa (salah satu tahap dalam keterampilan proses). Kekurangan pada tahap data prosessing diakibatkan karena adanya kendala dalam melaksanakan percobaan-percobaan. Secara umum keterampilan proses siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 Pada siklus 1 persentase ketercapaian masing- masing komponen tersebut adalah observasi 92% menafsrikan pengamatan 84% membuat hipotesis 56% merencanakan percobaan 75% berkomunikasi 82% mengajukan pertanyaan 64% dan aplikasi 51%. Sedangkan pada siklus 2 persentase komponen-komponen tersebut mengalami peningkatan yaitu observasi 97% menafsrikan pengamatan 90% membuat hipotesis 77% merencanakan percobaan 88% berkomunikasi 87% mengajukan pertanyaan 78% dan aplikasi 63%. Hal yang sama juga terjadi pada hasil kemampuan kognitif siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Kemampuan kognitif yang diukur melalui post test mengalami peningkatan dimana pada siklus 1 rata-rata nilai siswa adalah 57 dan meningkat pada siklus 2 sebesar 69. Keterlaksanaan percobaan-percobaan yang kurang maksimal dan kurangnya kemampuan guru dalam membantu siswa menafsirkan data pada tahap data prosessing menyebabkan pengetahuan siswa mengenai suatu konsep menjadi tidak jelas sehingga berakibat pada kemampuan siswa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari hal itu tampak dari data keterampilan proses yang menunjukkan kemampuan aplikasi siswa paling rendah dibanding komponen- komponen yang lain yaitu 50% pada siklus 1 dan 63% pada siklus 2. Kurangnya pemahaman siswa mengenai suatu konsep dan rendahnya kemampuan aplikasi siswa menyebabkan rendah pula kemampuan kognitif siswa tentang materi tersebut hal itu tampak dari hasil post test yang digunakan untuk mengukur tingkat kognitif siswa dimana pada siklus 1 rata-rata kelas mencapai 57 dan siklus 2 mencapai 69. Rata-rata tersebut menunjukkan kemampuan siswa masih dalam tingkat kognitif ingatan dan pemahaman. ii