Tugas Akhir
Analisis biaya produksi sebagai alat pengendalian biaya produksi pada PT. Swabina Gatra / Lilis Purnawati
Abstrak
ABSTRAK Purnawati Lilis. 2008. Analisis Biaya Produksi sebagai Alat Pengendalian Biaya Produksi pada PT. Swabina Gatra. Tugas Akhir Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Suparti M.P. Kata Kunci Anggaran Penentuan Tarif Standar Biaya Produksi Analisis Selisih Biaya Produksi. Persaingan dalam dunia usaha saat ini tidak dapat dipungkiri sehingga telah menjadikan pemicu setiap perusahaan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Dengan adanya perencanaan dan pengendalian maka aktivitas-aktivitas dalam perusahaan lebih terarah dan terkontrol. Melalui analisa-analisa penyimpangan dan mencari penyebab terjadinya penyimpangan tersebut maka dapat segera diambil tindakan untuk menanggulangi penyimpangan-penyimpangan tersebut serta secepatnya dapat diperbaiki. Efisiensi biaya produksi dapat dikendalikan dengan membuat suatu anggaran produksi dan menentukan tarif standar. Mengingat betapa pentingnya penyusunan anggaran biaya produksi dan penentuan tarif standar dalam suatu perusahaan guna meminimalisasi pemborosan atau penyimpangan dalam proses produksi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa perusahaan dalam menentukan tarif standar biaya produksi sudah tepat tetapi dalam menganalisis selisih biaya produksinya belum tepat maka diperlukan prosedur ananlisis yang tepat yaitu analisis selisih biaya yang digunakan sebagai alat untuk mengendalikan biaya produksi. Dalam mengendalikan biaya produksi memerlukan standar sebagai dasar yang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui kelemahan dari analisis yang telah dilakukan oleh PT. Swabina Gatra serta merumuskan alternatif perbaikan terhadap analisis selisih biaya produksi. Alternatif yang diajukan adalah menghitung analisis biaya produksi yaitu (1) analisis selisih biaya bahan baku (2) analisis biaya tenaga kerja (3) analisis biaya overhead pabrik. Berdasarkan perhitungan analisis biaya produksi maka diperoleh selisih hasil biaya bahan baku yang merugikan sebesar Rp. 10.939.386 68 dikarenakan harga bahan baku yang sesungguhnya lebih besar dari harga yang distandarkan. Sedangkan selisih kuantitas pemakaian bahan baku yang menguntungkan adalah Rp. 70.132.729 82 selisih ini dikarenakan jumlah produksi yang dihasilkan lebih kecil dari yang telah dianggarkan. Untuk selisih biaya tenaga kerja langsung yang merugikan sebesar Rp. 230.400 00. ini dikarenakan adanya kenaikkan tarif upah yang sesunggunya sebesar Rp. 100 00 per jamnya dari tarif yang dianggarkan dalam proses produksi. Sedangkan untuk selisih efisiensi upah langsung sebesar Rp. 355.200 00. Selisih efisiensi upah langsung ini menguntungkan bagi perusahaan dikarenakan jam sesungguhnya yang digunakan dalam proses produksi lebih kecil dari jam standar yang telah dibuat oleh perusahaan. Dan untuk analisis selisih BOP besarnya selisih anggaran yang merugikan adalah Rp. 364.103.467 00 selisih kapasitas yang merugikan sebesar Rp. 115.119.832 00 dan selisih efisiensi yang menguntungkan adalah Rp. 141.978.021 12. Adanya selisih yang tidak mengutungkan ini dikarenakan kapasitas yang sesungguhnya lebih kecil dari kapasitas normal.