Skripsi
Perbedaan keterampilan asertif siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Malang / Amri Aminudin
Abstrak
ABSTRAK Aminudin Amri. 2008. Perbedaan Ketrampilan Asertif antara Siswa Kelas Reguler dengan Siswa Kelas Akselerasi di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi Program Bimbingan dan Konseling Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Widada M.Si. (II) Drs. H. Imam Hambali M.Pd. Kata Kunci Ketrampilan Asertif Reguler Akselerasi Pada masa peralihan remaja mempunyai kesempatan untuk mencoba cara berperilaku yang baru. Perilaku tertentu yang memungkinkan remaja dapat diterima oleh kelompoknya. Kemampuan berkomunikasi secara terbuka sangat dibutuhkan untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur pada orang lain. Perilaku asertif dapat ditandai dengan adanya kemampuan berkomunikasi yang terbuka jujur dan sebagaimana mestinya terhadap orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (a) tingkat ketrampilan asertif siswa kelas reguler (b) tingkat ketrampilan asertif siswa kelas akselerasi dan menjelaskan perbedaan ketrampilan asertif antara siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan populasi siswa kelas reguler dan siswa kelas akselerasi tahun pelajaran 2007/2008. Dalam pengambilan sampel digunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisis hasil penelitian menggunakan persentase dan uji-t. Hasil penelitian siswa kelas akselerasi yang ketrampilan asertifnya tinggi sebesar 93.2 % dan ketrampilan asertif sedang 6.8 %. Siswa kelas reguler yang memiliki ketrampilan asertifnya tinggi sebesar 86.3 % dan ketrampilan asertif sedang 13.8 %. Hasil analisis komparatif menunjukkan ada perbedaan ketrampilan asertif antara siswa kelas reguler dengan siswa kelas akselerasi (p 0.008 0 05). Ketrampilan asertif siswa kelas akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler (mean 5 848). Saran bagi siswa berlatih mengungkapkan perasaan-perasaan dan mempertahankan hak-haknya akan membuat siswa lebih bisa menghargai dirinya dan orang lain. Bagi konselor untuk memberikan layanan informasi sekaligus melatihkan mengenai berperilaku secara asertif kepada siswa. Bagi orang tua orang tua menjadi model perilaku bagi anak dengan begitu anak akan berperilaku secara asertif. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan populasi yang lebih luas atau mungkin memberikan suatu pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan asertif siswa.