Skripsi
Pergulatan tafsir dan proses belajar masyarakat dusun Binangun Desa Bumiaji terhadap tradisi suruhan dalam Slametan Gadeso / Denok Dwi Krestanti
Abstrak
Indonesia mempunyai berbagai macam kebudayaan tradisi juga kebiasaan yang berkembang di masyarakat yang masingmasing mempunyai ciri khas dan keunikan yang bisa ditonjolkan. Masingmasing daerah dan suku mempunyai kebudayaan yang berasal dari warisan nenek moyang dan dilestarikan secara turunmenurun. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis mengulas tentang tradisi yang berkembang dalam masyarakat Jawa yaitu tradisi suruhan dalam upacara selametan Gadeso yang terdapat di desa Bumiaji kota Batu kabupaten Malang. Skripsi ini membahas tiga permasalahan yaitu (1) Bagaimana asalusul tradisi Suruhan (2) Bagaimana pergulatan tafsir yang terjadi dalam masyarakat Bumiaji tentang tradisi Suruhan (3) Bagaimana masyarakat belajar kebudayaan melalui pergulatan tafsir terhadap tradisi Suruhan. Penulisan ini bertujuan (1) Untuk mengetahui asalusul tradisi Suruhan (2) Untuk mengetahui pergulatan tafsir yang terjadi pada masyarakat Bumiaji tentang tradisi Suruhan. (3) Untuk mengetahui pembelajaran kebudayaan masyarakat melalui pergulatan tafsir terhadap tradisi Suruhan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif. Untuk memperoleh data peneliti memakai metode kepustakaan dan studi lapangan melalui observasi wawancara dan dokumentasi. Selain itu penelitian ini juga menggunakan data pengalaman individu karena peneliti adalah salah satu komunitas dalam masyarakat yang akan diobservasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pertama terkait sejarahnya tradisi suruhan ini sendiri sudah mulai kabur dikalangan masyarakat karena umurnya yang sudah sangat lama. Tidak ada generasi yang mengetahui secara pasti kapan tradisi suruhan mulai diadakan. Sedangkan generasi sekarang hanya menerima suatu warisan budaya yang merupakan sebuah amanat agar tetap dijaga dan dilestarikan seterusnya. Kedua tentang pergulatan tafsir yang secara tidak langsung menimbulkan clash diantara warga masyarakatnya. Ada tiga kelompok yang dapat dibedakan terkait pergulatan tafsir dalam tradisi suruhan yaitu 894 kelompok yang pro kelompok yang kontra dan kelompok netral yang cenderung mengikuti mainstream yang dirasa aman. Perbedaan pemikiran tersebut tidak menimbulkan konflik yang berarti karena masyarakat lebih mementingkan harmoni sosial dan kerukunan. IV Ketiga proses pembelajaran terkait dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat menyikapi sebuah perbedaan tafsir atau cara pandang dalam tradisi suruhan. Masyarakat menyikapi perbedaan tafsir tersebut dengan cara yang cukup dewasa dan mereka menghargai perbedaan satu sama lainnya sehingga dapat memperkecil terjadinya konflik yang ada. Masyarakat dusun Binangun yang notabene masyarakat Jawa lebih mementingkan pengakuan nilai bersama dalam hal harmoni sosial sehingga menutupi perbedaanperbedaan dan dapat meredam konflik yang ada.