Tugas Akhir
Perencanaan dan pelaksanakan struktur pondasi strouss pada proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Setiyono
Abstrak
ABSTRAK Setiyono 2009. Perencanaan dan Pelaksanan Struktur Pondasi Strouss pada Proyek Pembangunan Gedung Perkuliahan Fakultas Ekonomi Univeritas Negeri Malang (UM). Proyek Akhir Program Studi Diploma III Teknik Sipil dan Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Boedya Djatmika S.T. M.T. Kata kunci perencanaan pelaksanaan pondasi strouss Perkembangan pembangunan dewasa ini ditandai dengan berkembang pesatnya berbagai pembangunan. Semua konstruksi yang direkayasa untuk bertemu dengan tanah harus didukung oleh suatu pondasi. Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang bertugas meletakkan bangunan dan meneruskan beban bangunan atas (upper struc ture/super structure) ke dasar tanah yang cukup kuat mendukungnya. Untuk tujuan itu pondasi bangunan harus diperhitungkan dapat menjamin kestabi Ian bangunan terhadap berat sendiri beban-beban berguna dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin gempa bumi dan lain-lain dan tidak boleh terjadi penurunan pondasi setempat ataupun penurunan pondasi yang merata lebih dari batas tertentu. Banyak bangunan yang rusak karena penegangan berlebih terhadap tanah yang melandasinya. Kejadian kejadian yang lebih umum ialah retak-retak pada dinding dan lantai lantai tak rata (melendut dan miring) pintu dan jendela macet dan sejenisnya. Bahkan tak jarang terjadi rontok sebagian atau kerusakan yang terlokasikan pada suatu bagian struktural. Selaras dengan itu salah satu tujuan utama dalam desain pondasi adalah meminimalkan penurunan diferensial dengan cara membebani tanah sedemikian rupa sehingga penurunan yang sama terjadi di bagian bawah bangunan. Hal ini tidak sulit jika semua bagian bangunan bertumpu pada tanah yang sama tetapi dapat menjadi masalah bila sebuah bangunan menduduki sebidang tanah yang didasari oleh dua atau lebih luasan yang jenis tanahnya berbeda. Sebagian besar kegagalan pondasi dapat disebabkan penurunan yang berlebihan. Pada bangunan tinggi umumnya digunakan pondasi dalam (tak langsung) baik berupa tiang pancang maupun tiang bor. Dalam perencanaan pondasi perlu dilakukan penyelidikan tanah khususnya percobaan sondir untuk memperoleh nilai konus (qc) dan jumlah hambatan pelekat (JHP 964 ). Nilai qc dan 964 ini diperlukan untuk menghitung kapasitas daya pikul satu tiang. Daya dukung pondasi diasumsikan bahwa pondasi meneruskan beban bangunan sampai tanah lapisan keras dengan rekatan selimut pondasi dengan tanah sehingga dalam daya dukung dihitung berdasarkan end bearing capacity dan sleeve friction. Metode pelaksanaan pondasi strouss ada beberapa macam yaitu dry method casing method slurry method dan metode konvensional. Cara dry method dilakukan pada kondisi tanah kohesif dengan muka air tanah berada pada kedalaman di bawah dasar lubang bor atau jika permeabilitas tanah sangat kecil sehingga pengecoran beton dapat dilakukan sebelum pengaruh air terjadi. Casing method diperlukan dimana runtuhan tanah (caving) atau deformasi lateral dalam lubang bor dapat terjadi. Slurry method dapat diaplikasikan pada semua situasi penggunaan casing. Slurry di sini juga difungsikan untuk menahan air tanah yang dapat masuk ke dalam lubang. Metode konvensional adalah metode pelaksanaan yang sering digunakan pada pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss pada umumnya yang meliputi pekerjaan penulangan pekerjaan pengeboran tanah dan pekerjaan pengecoran. Langkah awal pengeboran adalah terlebih dahulu menentukan titik-titik tiang strouss. Titik tempat tiang strouss akan didirikan dibuat lubang vertikal dengan cara mengebor dengan alat bor strouss yang berdiameter 30 cm sampai kedalaman yang telah direncanakan atau sampai mencapai lapisan tanah keras. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemotongan tulangan yaitu (1) kebutuhan dari setiap jenis tulangan dan ukuran yang akan digunakan (2) tersedianya bahan yang sesuai dengan anggaran (3) rencanakan sedemikian rupa agar setiap bagian dari potongan besi dapat dimanfaatkan dan tidak terbuang sia-sia. Cara perangkaian tulangan strouss yaitu mula-mula tulangan yang akan dipakai sebagai sengkang ditancapkan pada liyer kemudian liyer tersebut diputar sampai menghasilkan spiral yang diinginkan. Perangkaian tulangan dilakukan di semua tulangan pokok dan tulangan sengkang yang dirangkai dengan kawat bendrat untuk menyatukan keduanya. Pekerjaan pengecoran ini dilaksanakan setelah pekerjaan perakitan tulangan selesai dilaksanakan. Proses pengecoran strouss dibantu beberapa alat yaitu molen ready mix sebagai tempat beton yang akan digunakan untuk mengecor pipa tremi yang terdiri dari corong dan pipa PVC berukuran 4 dim dengan panjang 6 00 meter yang berfungsi sebagai jalan masuknya adukan beton ready mix serta mencegah terjadinya pemisahan (segregasi) pada beton tersebut. Pipa tremi dimasukkan ke dalam lubang strouss yang sudah diberi tulangan kemudian ke dalam pipa dimasukkan adukan beton ready mix dan dipadatkan dengan menggunakan papan atau bambu. Setelah lubang strouss terisi penuh pipa diangkat perlahan-lahan. Kedalaman pengecoran beton adalah sepanjang tulangan tiang strouss yang telah dirangkai. Namun nantinya karena akan dibuat landasan pile cap maka sebagian dari beton tiang strouss akan dipotong. Bahan-bahan yang disusun untuk adukan beton terdiri dari bahan ikat berupa semen portland dengan bahan-bahan tambahan pasir kerikil dan air. Bahan-bahan ini kemudian dicampur dengan perbandingan tertentu dalam keadaan kering hingga merata (homogen). Campuran semen pasir dan kerikil yang sudah homogen kemudian dilarutkan dengan air sampai membentuk adonan berupa cairan homogen yang siap digunakan untuk pengecoran. Ada beberapa macam alat untuk pengangkutan beton menuju lokasi salah satunya adalah truck mixer. Truck mixer selain mempunyai kemampuan untuk mengaduk beton juga dapat mengangkut beton hasil adukan ke lokasi yang diinginkan dengan cepat.