Skripsi
Identifikasi struktur lapisan batuan akibat patahan (Normal Fault) dengan menggunakan metode geolistik / Yanuar Dhita Tri Nugroho Subiyanto
Abstrak
ABSTRAK Dhita Yanuar TNS. 2008. Identifikasi Struktur Lapisan Batuan Akibat Patahan (Normal Fault) Dengan Menggunakan Metode Geolistrik. Skripsi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Daeng Achmad Suaidi S.Si M.Kom (II) Eny Latifah S.Si M.Si. Kata kunci patahan normal fault geolistik resistivitas Res2dinv.. Bentuk muka bumi dapat memberikan potensi sebagai penunjang kehidupan. Dengan adanya homogenitas tertentu berkenaan dengan iklim dan kondisi alam lainnya setiap wilayah akan mempunyai potensinya masing-masing. Bentuk muka bumi yang berbeda dapat memberikan corak kehidupan pendudukan berbeda pula. Dengan adanya perbedaan iklim tinggi rendah daratan serta kondisi alam bumi memiliki bentuk yang bermacam-macam yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan perbedaan nilai resistivitas antar lapisan batuan metode geolistrik ini mampu mendeteksi adanya patahan pada lapisan bumi. Sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi patahan pada suatu zona agar dapat diprediksi kemungkinan terjadinya gempa beserta akibat dari gempa tersebut. Dengan menggunakan simulasi akan dilakukan penelitian dengan cara memetakan suatu zona untuk melihat pengaruh patahan pada suatu lapisan batuan yang semula tidak mengalami patahan hingga akhirnya terjadi patahan pada zona yang dikaji. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode geolistrik konfigurasi Schlumberger dengan tehnik Sounding-Mapping. Proses pengambilan datanya adalah menentukan titik-titik elektroda arus dan potensial serta membuat formasi lapisan batuan dengan susunan pasir kapur dan tanah. Kemudian menginjeksikan arus dengan jarak tertentu untuk mengukur beda potensial dan hambatan. Setelah itu diulangi lagi pengambilan data dengan membentuk formasi yang sama tetapi pada lapisan ketiga (paling bawah) sebelah kiri mengalami penurunan posisi sehingga lapisan kedua mengalami patahan yang ditandai dengan lapisan batuan sebelah kiri mengalami penurunan posisi. Kemudian dilakukan variasi lagi dengan formasi yang sama pada penelitian kedua tetapi yang mengalami penurunan posisi berada pada lapisan batuan sebelah kanan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendeteksian patahan sebenarnya direpresentasikan oleh perbedaan nilai resistivitas antar lapisan batuan yang ditampilkan melalui Res2dinV. Lapisan batuan yang semula mendatar setelah terjadi patahan pada jarak 110 cm dengan kedalaman 20-28 cm terjadi penurunan posisi lapisan batuan di sebelah kiri sementara lapisan batuan di sebelah kanan juga mengalami penurunan posisi tetapi tidak signifikan kondisi ini terjadi pada patahan model pertama. Untuk kondisi pada patahan model kedua dalam jarak 80 cm dengan kedalaman sekitar 20-28 cm terjadi penurunan posisi lapisan batuan di sebelah kanan sementara lapisan batuan di sebelah kiri tidak terlalu mengalami penurunan yang besar. Jadi melalui penelitian pada zona yang terjadi patahan mampu diinterpretasikan struktur patahannya berdasarkan perbedaan nilai resistivitas.