Skripsi
Penggunaan pembelajaran kontekstual metode questioning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F di SMP Negeri 13 Malang dalam mata pelajaran ekonomi / Arista Marhance
Abstrak
ABSTRAK Marhance Arista. 2009. Penggunaan Pembelajaran Kontekstual Metode Questioning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-F Di SMP Negeri 13 Malang Dalam Mata Pelajaran Ekonomi. Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Moch. Ichsan S.E. M.Pd. M.Si (II) Imam Mukhlis S.E. M.Si Kata-kata kunci Questioning Pembelajaran Kontekstual. Kemampuan Berpikir Kritis Hasil Belajar. Berdasarkan obeservasi awal diketahui bahwa berpikir kritis siswa di kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang masih kurang. Hasil belajar siswa dalam kelas banyak yang belum memenuhi standar minimum (SKM) yaitu 70 ke atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penggunaan pembelajaran kontekstual metode Questioning dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang. Upaya peningkatan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dilakukan pembelajaran kontekstual metode Questioning. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang menggunakan pembelajaran kontekstual metode Questioning dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan dalam 2 siklus dalam 3 kali pertemuan melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII I-F SMP Negeri 13 Malang yang berjumlah 40 siswa yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi rubrik dan tes pada akhir setiap siklus. Data kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dari skor kemampuan berpikir kritis siswa pada tahap siklus I dan II dilihat dari 3 aspek yaitu aspek kualitas relevansi dan bahasa baik untuk mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan. Pada siklus I kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebanyak 11 pertanyaan. Untuk aspek kualitas pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebesar 36 dengan rata-rata 6 83 aspek relevansi pertanyaan sebesar 34 dengan rata-rata 6 17 dan pada aspek bahasa yang digunakan sebesar 35 dengan rata-rata 6 4. Presentase dari kemampuan bertanya total nilai sebesar 878 16% dengan rata-rata 79 83%. Pada kemampuan menjawab pertanyaan untuk aspek kualitas pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebesar 37 dengan rata-rata 6 73 untuk aspek relevansi sebesar 34 dengan rata-rata 6 2 dan untuk aspek bahasa sebesar 33 dengan rata-rata 6. Persentase pada kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 878 89% dengan rata-rata 79 26%. Pada siklus II kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan siswa sebanyak 15 pertanyaan. Untuk aspek kualitas pertanyaan sebesar 49 dengan rata-rata 6 54 aspek relevansi sebesar 47 dengan rata-rata 6 29 dan untuk aspek bahasa yang digunakan sebesar 46 dengan rata-rata 6 13. Persentase pada kemampuan bertanya total nilai 1165 65% dengan rata-rata 77 71%. Untuk kemampuan menjawab pertanyaan pada aspek kualitas menjawab pertanyaan sebesar 50 dengan rata-rata 6 68 pada aspek relevansi sebesar 43 dengan rata-rata 5 74 dan untuk aspek bahasa sebesar 46 dengan rata-rata 6 14. Persentase untuk kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 1159 65% dengan rata-rata 77 31%. Kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa dari siklus I ke siklus II terus bertambah dan semakin baik. Hasil belajar siswa kelas VIII-F SMP Negeri 13 Malang jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 31 siswa (77 5%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 9 siswa (22 5%). Jumlah siswa yang nilainya dikategorikan sangat baik (A) sebanyak 3 orang (7 5%) dikategorikan baik (B) sebanyak 12 siswa (30%) dikategorikan cukup (C) sebanyak 16 orang (40%) dikategorikan kurang (D) sebanyak 9 orang (22 5%). Sedangkan pada siklus II siswa yang dikatakan tuntas belajar meningkat sebanyak 35 orang (87 5%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 5 orang (12 5%). Jumlah siswa yang nilainya dikategorikan sangat baik (A) sebanyak 5 orang (12 5%) dikategorikan baik (B) sebanyak 19 siswa (47 5%) dikategorikan cukup (C) sebanyak 11 orang (27 5%) dikatagorikan kurang (D) sebanyak 5 orang (12 5%). Berdasarkan deskripsi data yang telah diuraikan dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa ditinjau dari aspek kognitif dari siklus 1 dan siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 10%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual metode Questioning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas VIII-F di SMP Negeri 13 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagi guru mata pelajaran ekonomi mulai menerapakan pembelajaran kontekstual metode Questioning dan mengembangkannya pada materi yang lain. Penerapannya dalam kelas memerlukan kreativitas guru yang tinggi terutama dalam menyajikan fenomena sebagai pemicu masalah sehingga masalah yang disajikan betul-betul dapat merangsang siswa untuk berpikir ksitis.