Tugas Akhir
Modifikasi mesin pembuat mie dan kulit pangsit untuk rumah tangga dan usaha kecil / Zainuri Achsan, Sholih Prasetyawan
Abstrak
Mencari pekerjaan sekarang ini sangat sulit. Ketersediaan lapangan kerja yang ada tidak mencukupi dari pencari kerja yang sangat banyak. Lapanganlapangan kerja baru perlu diciptakan seperti berwirausaha dan mendirikan usahausaha baru semisal industri kecil dan menengah pada masyarakat. Untuk menunjang kelangsungan industri kecil pemerintah beserta masyarakat mendorong serta mencari-cari cara atau solusi agar dapat meningkatkan produksi yang dihasilkan. Salah satu cara dengan memberikan sentuhan teknologi baik pada usaha-usaha yang termasuk dalam industri kecil dan menengah sehingga dapat dikembangkan usaha-usaha baru juga meningkatkan hasil poduksi dalam masyarakat. Dengan maksud tersebut manusia menginginkan adalah alat produksi yang praktis dan ekonomis yaitu mampu meringankan beban manusia murah dan bahkan mampu mendatangkan keuntungan berupa finansial. Penjual mie ayam atau mie pangsit kebanyakan mereka belum bias memproduksi sendiri mie yang dijualnya dan harus membeli dari produsen mie yang ada. Pembuatan mie sendiri biasanya dilakukan oleh produsen tersendiri dengan pekerjaan berskala cukup besar seperti pada perusahaan mie atau makanan besar menggunakan mesin yang relatif besar. Para penjual mie biasanya tergabung suatu kelompok usaha kesil sebenarnya berkeinginan memproduksi sendiri mie yang akan dimasak dan dijualnya. Jika mampu memproduksi sendiri dan tidak lagi membeli dari pihak lain diharapkan mampu menekan biaya dan meningkatkan usaha otomatis menambah juga keuntungan. Bisa juga menjadi usaha baru dengan memproduksi mie yang banyak dan menjualnya ke pihak lain. Namun yang menjadi hambatan adalah keterbatasan modal dan sarana alat-alat atau mesin-mesin produksi. Hambatan yang dirasakan oleh paguyuban pedagang atau penjual mie yang terdapat di lingkungan rumah penulis di kota Situbondo. Menurut seorang penjual mie ayam yang penulis temui untuk memproduksi mie sendiri mereka membutuhkan mesin-mesin seperti untuk mengaduk adonan (mixer) menipiskandan mencetak adonan menjadi mie. Mesin produksi yang dibutuhkan cukup mahal harganya. Pada gambar 1.1 sebuah mesin untuk menipiskan dan mencetak mie dengan pemotong 18 cm dengan kecepatan putaran 45 rpm dan kapasitas 12-20 kg/jam dijual dengan harga enam juta rupiah bahkan ada mesin seharga dua puluh juta rupiah untuk penipis adonan saja. Harga sebesar itu saja terasa cukup berat bagi para penjual mie yang tergabung dalam paguyuban tersebut. Memperhatikan hal itu dengan alat penggiling mie yang sederhana (gambar 1.3) penulis berkeinginan memodifikasi alat tersebut dan merancang sebuah mesin pembuat mie untuk menipiskan dan memotong adonan menjadi mie.