Skripsi
Manajemen pembelajaran inklusi (studi kasus di SD Negeri Sumbersari 1 Malang) / Lidya Maftukhah Nur
Abstrak
ABSTRAK Nur Lidya Maftukhah.2009. Manajeme Pembelajaran Inklusi (studi kasus di SD Negeri Sumbersari 1 Malang). Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Maisyaroh M.Pd Pembimbing (II) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin M.Pd. Kata kunci manajemen kelas pembelajaran inklusi. Pendidikan merupakan usaha sadar seseorang untuk meningkatkan kualitas pribadi baik secara jasmani maupun rohani. Dengan adanya pendidikan yang merata akan melahirkan bangsa yang maju adil dan makmur. Maka dari itu hendaknya pemerintah menghimbau masyarakat agar mengenyam pendidikan WAJAR 9 TAHUN (wajib belajar 9 tahun). Pemerataan pendidikan juga harus bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat yang mempunyai kelainan atau disebut anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun yang normal. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal 5 Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Warga negara yang berkelainan juga telah disebutkan dalm Pasal 5 ayat 2 yang menyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik emosional mental intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pemerintah kini lebih bijak dengan memberi perhatian bagi masyarakat yang mempunyai kelainan agar bisa sejajar dengan mereka yang normal salah satunya menyelenggarakan sekolah inklusi. Sekolah ini merupakan sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus untuk dapat belajar bersama dengan peserta didik yang normal. Sosialisasi sangat penting bagi ABK karena dengan begitu akan sangat membantu untuk kesembuhan mental dan menyiapkan diri supaya kelak bisa menjadi pribadi yang mandiri percaya diri dan berpotensi. Pengelolaan kelas yang kondusif merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Karena dengan suasana kelas yang mendukung akan menjadikan peserta didik merasa nyaman dan bisa menerima pelajaran dengan senang. Dalam sekolah inklusi manajemen kelas dibangun dari tiga komponen penting yaitu guru kelas guru pendidik khusus (GPK) dan shadow/shadow teacher. Kurikulum yang dipakai untuk sekolah inklusi adalah kurikulum reguler dengan sedikit modifikasi pada materi media dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Salah satu sekolah tingkat dasar yang menyelenggarakan sekolah inklusi adalah SD Negeri Sumbersari 1 Malang. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang manajemen kelas untuk pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang. Ada enam fokus dalam penelitian ini yaitu (1) apa saja perencanaan yang dilakukan dalam pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang (2) bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Sumbersari 1 Malang (3)bagaimanakah evaluasi yang dilakukan di SD Negeri Sumbersari 1 Malang (4) apa sajakah faktor pendukung berjalannya proses pembelajaran inklusi dengan lancar di SD Negeri Sumbersari 1 Malang (5)apa saja faktor penghambat proses pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang (6) apa saja upaya untuk mengatasi masalah selama pelaksanaan pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) observasi (2) wawancara (3) pengamatan berperan serta (4) dokumentasi (5) rekaman arsip dan (6) perangkat penunjang. Setelah data diperoleh kemudian data tersebut diuji dengan menggunakan metode trianggulasi sumber dan ketekunan pengamatan untuk mengetahui keabsahan data. Temuan penelitian ini yaitu (1) dalam perencanaan pembelajaran untuk pengelolaan kelas intinya sama dengan yang lain selama anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti maka peserta didik tersebut hendaknya masuk dalam kelas dan mengikuti semua kegiatan yang ada. Sedangkan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum reguler dengan sedikit modifikasi sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang bersangkutan dan pihak yang terlibat dalam pembuatan perencanaan adalah guru kelas dengan GPK (2) pelaksanaan pembelajaran terlihat pada pengelolaan kelas yang kondusif untuk tempat belajar menarik nyaman dan rapi pengorganisasian tempat duduk antara yang ABK dan peserta didik yang normal adalah menjadi satu dan strategi pembelajaran yang digunakan dengan memberi waktu yang lebih banyak dan membiarkan ABK untuk keluar kelas jika keadaan psikologisnya tidak stabil (3) bentuk penilaian untuk kelas kecil ada dua bentuk sedangkan untuk kelas besar hanya satu seperti yang lain dan penilaian dari GPK dan shadow adalah sebagai bahan pertimbangan oleh guru kelas (4) faktor yang menghambat antara lain kondisi psikologis peserta didik faktor makanan dan ilmu yang didapat tidak sama dengan kenyataan yang ada (5) sedangkan untuk faktor pendukungnya mempunyai guru pendidik khusus (GPK) partisipasi dan dukungan dari pihak orangtua serta lingkungan yang mendukung (6) upaya untuk mengatasi masalah pengelolaan kelas adalah dengan merasa empati terhadap apa yang dirasakan peserta didik yang normal maupun yang ABK supaya bisa mencari jalan keluar dan kelas menjadi kondusif lagi untuk temapt belajar. Dari hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut (1) kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas sekolah dan memperhatikan kuatitas anak berkebutuhan khusus dalam kelas dengan melihat kemampuan guru (2) bagi jurusan adaministrasi pendidikan hendaknya dapat menambah reverensi dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen kelas untuk pembelajaran inklusi (3) bagi peneliti lain agar lebih meningkatkan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan.