Skripsi
Proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) kelas VIIIA semester II di SMP Negeri 4 Malang / Siti Nafsitah
Abstrak
ABSTRAK Nafsitah Siti. 2009. Proses Interaksi Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray ( TSTS) Kelas VIII Semester II di SMPN 4 Malang. Skripsi Jurusan Matematika Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. M. Shohibul Kahfi M. Pd (2) Dr. Hery Susanto M. Si Kata kunci Proses Interaksi Berpikir Two Stay Two Stray (TSTS) Kegiatan pembelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan terdapat proses interaksi berpikir siswa untuk melengkapi struktur kognitifnya sehingga memiliki keterhubungan antara konsep-konsep pengetahuan di dalamnya. Metode menghafal tanpa disertai pemahaman menyebabkan struktur kognitif siswa akan terpisah antara satu bagian dengan bagian yang lainnya sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Metode pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) adalah metode pembelajaran yang mengoptimalkan kegiatan interaksi siswa untuk melengkapi struktur kognitifnya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIIIA semester II di SMPN 4 Malang dengan mengambil empat siswa sebagai subjek penelitian dengan karakteristik heterogen dalam kemampuan akademis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan terjadinya proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) kelas VIIIA semester II di SMPN 4 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kegiatan diskusi dengan menggunakan pembelajaran kooperative model Two Stay Two Stray (TSTS) terjadi proses interaksi berpikir multiarah antara subjek penelitian pada saat melengkapi lembar kegiatan kelompok (LKK) dan pada saat subjek penelitian melaksanakan kegiatan bertamu dan menjadi tuan rumah. Subjek penelitian pertama (siswa kemampuan tinggi) cenderung menyumbangkan pengetahuan kepada teman diskusinya. Siswa yang berkemampuan sedang cenderung seimbang antara menyumbangkan dan menerima pengetahuan dari teman diskusinya. Subjek penelitian keempat (siswa yang berkemampuan rendah) cenderung menerima pengetahuan dari teman diskusinya. Subjek penelitian 3 (siswa berkemampuan sedang 2) lebih aktif berinteraksi dengan dengan teman diskusinya dalam kegiatan diskusi dibandingkan subjek penelitian 2 (siswa berkemampuan sedang 1). Perubahan struktur pengetahuan subjek penelitian menjadi lebih sesuai dengan struktur masalah yang diberikan setelah kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk adanya penelitian lebih lanjut. Misalnya adalah penelitian mengenai konstruksi pengetahuan siswa pada materi luas permukaan prisma dan limas atau bangun ruang lainnya yang pelaksanaannya lebih terfokus pada siswa untuk metode pembelajaran kooperatif yang lain.